Upaya Penelitian Sains Membuktikan Korelasi Fisika Materi dengan Metafisika Dalam Membentuk Mekanisme Alam Semesta

KategoriMekanisme | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog


Foto ilmuwan
29 ilmuwan terkemuka dunia di Konferensi Solvay ke-5 pada tahun 1927- foto: IST, sindonews.com


Masa antara abad ke-18 dengan 19 itu, bisa disebut sebagai dimulainya era kebangkitan ilmu fisika modern, yang ditandai dengan adanya eksistensi para ilmuwan terkemuka dunia, seperti Albert Einstein 1879 - 1955, pencetus teori relativitas energi, Max Planck 1858 – 1947, penemu teori fisika quantum, Niels Bohr 1885 - 1962, penemu teori Bohr magneton, model dan radius sekaligus menjadi lawan debat ilmiah terhadap Einstein, Georges Lemaitre 1894 - 1966, pencetus teori big bang, yaitu awal mula terciptanya alam semesta, serta puluhan ilmuwan lainnya di negara-negara Eropa dan Amerika.

Mereka terus "berlomba" melakukan penelitian ilmiah untuk mengungkap rahasia alam semesta. Mereka ingin membuktikan bahwa teori fisika klasik tidak sepenuhnya benar, yang mana meyakini bahwa setiap hal di jagad raya, baik pada makhluk hidup maupun benda mati, tersusun oleh unsur terkecil yang disebut dengan atom dan sudah tidak dapat diuraikan lagi.

Dan prediksi mereka benar, ternyata atom memang bukan unsur terkecil di alam semesta. Atom masih bisa dipecah menjadi inti atom atau sub atom. Pada inti atom, terdapat partikel-partikel yang bermuatan listrik, berupa proton (bermuatan positif) dan neutron (netral-memiliki jumlah muatan positif dan negatif yang sama), yang keduanya dikelilingi oleh satu atau beberapa elektron (bermuatan negatif) yang bergerak melingkarinya (revolusi) dalam ruang hampa. Persis sama seperti gambaran tata surya.



atom
Ilustrasi atom


Dari sinilah, awal mula munculnya inspirasi tentang teori big bang, yaitu permulaan terciptanya alam semesta yang terus mengembang. Dan di sini pulalah, logika para ilmuwan mulai terasa mentok. Bagaimana tidak, ternyata partikel-partikel (elektron) itu terus bergerak dan tidak bisa diprediksi arah gerakannya, mereka bertempat secara super posisi, kecuali hanya pada saat akan diukur dan tampak oleh mata (dengan bantuan mikroskop). Ini sangat aneh, sangat membingungkan dan tidak masuk akal.

Terkait masalah ini, Einstein sempat berucap, "Tidak mungkin Tuhan sedang bermain dadu".

Lalu akhirnya, muncullah kesepakatan di antara para ilmuwan saat itu, dengan mengeluarkan pernyataan bahwa ada "permasalahan pengukuran-measurement problem."

Dari kerumitan ini, kemudian mengemukalah istilah yang sangat fenomenal, yaitu fisika quantum atau quantum mekanik hingga sekarang. 

Sehingga fisika quantum (jamak: quanta) memiliki pengertian, yaitu merupakan jumlah minimum dari setiap entitas fisika (sifat fisika atau materi) yang terlibat dalam suatu interaksi dan saling terkait.

Kerumitan kembali timbul ketika ditemukan realita bahwa tiap-tiap partikel ternyata memiliki pasangan partikel lain di medan quantum lainnya, bahkan dapat berada di tata surya lainnya dalam skala yang lebih besar (jumlah tata surya lebih dari 200 miliar di alam semesta) atau bahkan dalam dimensi lain.

Mereka bergerak dalam jalur dan irama yang sama persis meski terpisah jarak yang tidak logis. Hingga fenomena ini disebut dengan quantum entanglement, yaitu partikel dalam medan quantum yang berpasangan, saling terkait dan terikat namun terpisah jarak yang sangat jauh dan diprediksi dapat berbeda dimensi.

Einstein yang berpikiran sangat rasional, kembali sangat susah menerima kenyataan ini, hingga mengeluarkan ucapan, 

"Ini adalah spooky actions at a distance", aksi menakutkan dari jarak jauh. Dapat digambarkan seperti proses santet versi ilmiah.

Dari fenomena inilah, lalu muncul istilah multiverse, multi universe, multi jagad raya, multi dimensi atau dunia paralel.

Tidak sampai di situ, kenyataan kembali diperumit dengan dapat dipecahnya partikel proton, neutron dan elektron menjadi quarks, yang memiliki gerakan spin (rotasi) up dan spin downnya. Juga setiap partikel atau materi ternyata memiliki lawannya, yang disebut dengan anti materi, yang jika keduanya saling bertemu, akan menimbulkan ledakan yang dahsyat, saling meniadakan atau menghancurkan. Dan seterusnya, proses penelitian ilmiah ini masih berlanjut hingga sekarang.


Stephen Hawking
Stephen Hawking, foto: Detiknews


Sampailah beberapa puluh tahun sepeninggal mereka, fisikawan asal Inggris yang bernama Stephen Hawking 1942 – 2018, mencetuskan sebuah teori yang disebut black hole-lubang hitam, di mana fenomena ini terdapat di jagad raya kita. Berupa pusaran medan magnet yang menghisap segala energi dan materi di sekitarnya, termasuk cahaya hingga tak dapat keluar kembali.

Realita gambaran ini dapat terbentuk, dikarenakan terjadinya pemusatan massa dari pelengkungan ruang dan waktu, dengan gravitasi yang kuat, akibat benturan dua bintang (seperti dua matahari) atau bintang mati yang hancur. Hal ini dapat diasumsikan sebagai proses berakhirnya alam semesta.

Perjalanan berlanjut sampai pada akhir tahun 2011 lalu, melalui tim peneliti yang bekerja di laboratorium CERN (dewan Eropa untuk riset nuklir) di perbatasan Perancis dan Swiss, disimpulkan suatu realita bahwa justru yang terpenting adalah adanya ruang hampa yang melingkupi partikel.

Tanpa ruang hampa ini, keberadaan partikel tidak ada artinya (sirna). Ruang inilah yang diindikasikan menjadi medan magnet dalam medan fisika quantum dan entitas ini juga disebut dengan partikel, hanya saja bentuknya tidak kasat mata (metafisik). Sehingga partikel ini diberi nama sesuai penggagasnya, yaitu partikel Higgs atau Higgs Bosson.

Penemuan partikel ini (mengonfirmasi gagasan Higgs), akhirnya diumumkan ke publik pada pertengahan tahun 2012 dan melengkapi tabel periodik fisika yang belum sempurna, hingga disinyalir sebagai partikel Tuhan.

Dari dasar penemuan ini maka semakin menguatkan rumusan yang terdefinisi tentang eksistensi empat gaya fundamental alam, yang mendasari terciptanya dan bekerjanya medan fisika quantum tadi. Sebagai awal mula penciptaan, pembentukan, pengaturan hingga kepada pemeliharaan jagad raya, yang dimulai dari unsur partikel terkecil. 

Gaya fundamental tersebut adalah gaya elektromagnetik, gaya gravitasi, gaya inti (nuklir) kuat dan gaya inti (nuklir) lemah. Gaya fundamental alam ini bekerja secara terintegrasi, saling terikat dan terkait.

Uraian di atas menjelaskan pandangan sains tentang unsur dan mekanisme alam semesta yang secara langsung maupun tak langsung juga menerangkan kinerja terjadinya sebuah fenomena keberuntungan di dalamnya bahwa betapa rasionalnya pandangan fisika materi yang berorientasi pada wujud, pada akhirnya harus mengakui keberadaan sebuah realita metafisika atau kekuatan (energi) yang tak kasat mata, dan hanya melalui rumus fisikalah, hal-hal tersebut dapat dianalisa, dieksplorasi serta dikembangkan lebih lanjut.



Posting terkait : Beruntung dan Keberuntungan Dalam Pandangan Umum, Membuat Bingung!





home    back

Komentar