Pandangan Agama dan Budaya Tentang Beruntung dan Keberuntungan, Memberikan Sisi Terang

KategoriWawasan | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog


Lima agama
Foto: Keberagaman agama, Gramedia.com

Pandangan Agama

Keberuntungan bila ditinjau dari segi agama, dalam hal ini khususnya Islam, Al Qur'an telah mengisyaratkan, baik secara tersurat maupun tersirat. Di antaranya terdapat pada QS Al-Mu'minuun : 1-5, Al-Maidah : 90, Al-Jumuah : 10, An-Nashr yang menghubungkan secara tersirat, antara keberuntungan dan waktu.

Beberapa contoh dalil di atas, kesemuanya dapat disimpulkan memiliki tafsir yang senada, yaitu orang yang beruntung mendapatkan keberuntungan adalah orang yang melaksanakan ketaatan terhadap perintah Tuhan, menjauhi laranganNya dan terus berproses untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ketaatannya tersebut. Begitu pun tafsir pada setiap agama lainnya, mempunyai pengertian yang sama.

Di dalam agama Islam juga dikenal istilah husnul khotimah dan su'ul khotimah, yang berarti akhir kehidupan yang baik atau buruk bagi manusia dalam memasuki alam kematian.

Para ulama dan tokoh Islam selalu mengingatkan umatnya, untuk selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Sebab, bisa saja orang yang tadinya baik dan tekun beribadah, akan berkesudahan dengan su'ul khotimah dan berlaku juga sebaliknya.

Lalu yang menjadi pertanyaan, siapakah yang secara pasti akan berkesudahan hidup dengan baik? Maka jawabannya adalah, hanya dialah orang yang beruntung dalam pengertian yang lebih hakiki.




Pakaian Jawa
Foto berbusana adat Jawa

Pandangan Budaya

Sementara dalam filosofi budaya Jawa yang terkenal adiluhung dan adat tradisinya yang terus diamalkan oleh masyarakat Jawa secara turun temurun, ternyata telah mengakomodir kedua perspektif keberuntungan tersebut.

Di antaranya, secara umum terdapat dalam cerita epik Ramayana dan Maha Bharata yang menjadi latar kesenian pagelaran wayang, Kitab Babad Tanah Jawa, karya-karya sastra para Mpu dan pujangga zaman kerajaan, filosofi budaya ruang-space culture, yang menjadi puncak peradaban dan budaya tanah Jawa, yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma 1613-1645, dengan sebutan "Hamemayu Hayuning Bhawana" (mempercantik alam yang indah), ajaran dan filsafat Ki Ageng Suryamentaraman (adik HB VIII), kitab Primbon Betaljemur Adammakna – pegangan Sri Sultan Hamengku Buwana X, yang ditulis oleh Pangeran Harya Tjakraningrat (salah satu putra HB IX) dan lain sebagainya.


Logo keraton Jogja
Logo Keraton Yogyakarta

Semuanya memperlihatkan indikasi, baik tersurat maupun tersirat, betapa pentingnya proses berpikir, berperasaan, bertutur kata dan berperilaku utama dalam hidup keseharian untuk memperoleh keberuntungan lahir batin dunia akhirat.

Dalam realitas kehidupan lainnya, ada yang mencontohkan, seperti lolosnya seseorang dari kecelakaan hebat yang bila dinalar, bagaimana mungkin ia selamat dari maut, sedangkan kendaraannya hancur ringsek. Dan contoh lainnya yang semakna dengan ini, dapat dikategorikan sebagai keberuntungan dalam perspektif metafisika, sesuatu hal di luar nalar, tidak terpikirkan dan diharapkan sebelumnya serta terjadi di luar kendali manusia.

Pandangan klasik lain yang juga tidak kalah fenomenalnya dan hampir dikenal seluruh masyarakat Jawa, adalah adanya komparasi antara keberuntungan dengan hal-hal yang justru bukan perkara negatif. Dalam bahasa Jawa, kata beruntung memiliki dua makna, yaitu bejo, merupakan sifat beruntung yang disebabkan oleh sesuatu di luar sangkaan dan kendali, dan bathi, yaitu perasaan beruntung yang diusahakan secara sadar dalam sebuah transaksi atau usaha. 

Sedangkan keberuntungan diartikan sebagai kabegjan. Siapakah yang menjadi pemenang, yang mendapatkan kabegjan antara bejo dengan hal-hal berikut;
“Antara si bejo dengan si pintar, si bejo dengan si kuat, si bejo dengan si kaya, si bejo dengan si baik, bahkan si bejo dengan si benar?” Dan seterusnya.

Yang dimaksud dengan si bejo di sini, tentu bukan nama orangnya. Dan tentu saja jawabannya sudah pasti, dialah si bejo.

Bagian dari falsafah Jawa di atas, mengisyaratkan bahwa jika beruntung diartikan sebagai bejo maka bukanlah berarti seseorang itu mendapatkan keberuntungan. Bagaimana mungkin, pada saat-saat mendesak atau di waktu-waktu terakhir, selalu muncul kabegjan, dibandingkan dengan hal-hal baik lainnya?

Maka yang dimaksud dengan beruntung dalam kasus ini adalah, hendaknya seseorang menjadi orang yang bathi. Yaitu orang yang wajib berupaya sekuat tenaga, untuk dapat meraih kebahagiaan, kekayaan, kepintaran, kebaikan, kebenaran dan seterusnya. Tidak boleh hanya dengan berpangku tangan, bermalas-malasan lalu mengharapkan datangnya keberuntungan.

Namun, kembali pada sisi lainnya tadi, kasus ini juga dapat diterjemahkan secara terbalik dari keterangan di atas. Bagaimana jika suatu keadaan bejo, bisa dimanifestasikan menjadi kabegjan yang terus menerus? Menjadi sesuatu yang menyifati seseorang dalam hidupnya atau bahkan bukan hanya sekedar menjadi sifat, tetapi menjadi kabegjan itu sendiri (fortuner-pembawa keberuntungan), yang berarti, seseorang tersebut akan menghasilkan efek yang memancarkan energi kabegjan, yang tidak terbatas tertuju hanya kepada diri sendiri tetapi juga untuk sesama manusia dan alam semesta. Maka, inilah maksud dan pengertian beruntung dan keberuntungan dalam bentuk holistik yang lebih sempurna.

Berita baiknya, ternyata hal itu sangat mungkin terjadi. Menurut hasil diskusi dengan para praktisi lokal, pengamatan diskusi spiritual di berbagai media sosial, hasil temuan praktisi spiritual modern kelas dunia, pengalaman empirik pribadi dan sampel-sampel hasil pembelajaran peserta bimbingan yang hingga kini masih terus dieksplorasi, serta dalil hukum agama, menunjukkan bukti-bukti dan petunjuk yang sangat kuat dan meyakinkan.

Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan, terkait dengan beruntung dan keberuntungan, yaitu adanya korelasi yang tak terpisahkan antara beruntung dan keberuntungan dalam perspektif fisika materi dan metafisika. Salah satu dari keduanya tidak akan pernah eksis dan bekerja bila pasangannya juga tidak ada. Dari sinilah, pembahasan kita tentang beruntung dan keberuntungan akan berlanjut.



Posting terkait : Beruntung dan Keberuntungan Dalam Pandangan Umum, Membuat Bingung!





home    back

Komentar