Puji Syukur, Afirmasi Tiga Miliar Sudah OTW Cair

KategoriInspirasi | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog


Fortuner Image



Berikut ini adalah alur singkat kisah dan latar belakang kehidupan saya yang nyata, sekiranya dapat dijadikan bahan refleksi bagi siapa saja, terutama kembali kepada penulis sendiri, terkait dengan perjalanan spiritual. Jika ada baiknya dapat diambil dan buang saja bila mendapati buruknya.

Saya lahir di tahun 1975, dari keluarga sederhana. Itu berarti, usia saya saat sekarang ini berjalan ke-48 tahun. Saya berdomisili di Gunungkidul DIY.

Dari masa kanak-kanak hingga lulus SMA di tahun 1994, kisah hidup saya mungkin sama saja, selayaknya masyarakat pada umumnya. Selepas tamat SMA, saya pernah mendaftar kuliah di UGM, prodi Hubungan Internasional dengan pilihan cadangan bahasa Inggris dan tentara tiga kali, namun ternyata semuanya gagal. Hingga akhirnya diterima kuliah di ISI Jogja, fakultas seni rupa pada tahun 1995. Kontras memang.

Saya mengalami aktivitas bekerja yang bermacam-macam, itu karena saya bukan PNS. Sebelum kuliah, saya pernah ikut nguli bangunan, jadi tukang finishing bagian ngecat. Lalu pindah di home industri kerajinan kulit yang memproduksi tas, dompet, ikat pinggang dan lainnya. 

Semasa kuliah juga sempat nyambi ngamen di Malioboro. Pada masa kuliah itulah, saya merasakan banyak gejolak yang timbul di dalam pikiran. Banyak pertanyaan berdasar keingintahuan akan banyak hal yang tidak terjawab. Terutama berkaitan dengan kesejatian diri atau "sangkan paraning dumadi" (asal muasal dan tujuan semua kejadian).

Untuk itu, saya banyak melakukan nyantri ngalong ke mana-mana. Hingga pada puncaknya, pada tahun 1999, saya memutuskan untuk uzlah, menepi, bertafakur dan bermujahadah kepadaNya, di tepian pantai selatan Gunungkidul yang bertebing, selama 45 hari 45 malam.

Wal hasil, saya memperoleh pencerahan. Semua yang saya cari terjawab sudah. Hingga berdampak drastis pada sisi kejiwaan, saya tidak memiliki ketertarikan sama sekali dengan hingar bingar kehidupan di luar sana.

Begitu nikmatnya selalu dekat denganNya, sebuah suasana yang tak bisa digambarkan, meskipun saya seorang pelukis. Untuk hidup berkeluarga pun, tak ada hasrat. Mungkin bisa dideskripsikan seperti kehidupan sufi di masa klasik.

Tak lama pada masa itu, saya diingatkan oleh sang guru, bahwa hidup menyepi itu sangatlah mudah, tidak memiliki tantangan kehidupan. Sunah rasul untuk berkeluarga, berketurunan dan amar makruf nahi mungkar juga tidak ada. Tuhan itu menilai proses perjuangan, bukan hasilnya.

Saya diperintahkan untuk menjalani serangkaian "lelaku", di antaranya berupa tafakur musafir dengan menggembel tanpa bekal apa pun (Jawa; tapa lelana ngedan), tafakur dalam keramaian (Jawa; tapa ngrame), layaknya kehidupan dalam masyarakat normal selama minimal 10 tahun, guna mengamalkan pengetahuan hasil pencerahan dan masih harus mengalami fase tafakur dipermalukan (Jawa; tapa wirang) setelahnya.

Singkatnya, sekira berselang 3 bulan setelah itu, tapa lelana ngedan saya lakukan dengan berjalan kaki dan hanya tercapai pada seperempat bagian selatan pulau Jawa. Karena pada akhirnya, saya diarahkan untuk pulang. 

Kemudian tapa ngrame, dimulai dari bertemunya saya dengan istri pada tahun 2001 hingga sekarang. Pada waktu itu saya bekerja di kerajinan tas ekspor berbahan daun pandan laut di bilangan kota Jogja.

Lika-liku pasang surut selama tapa ngrame ini begitu hebat. Saya mulai menghayati pekerjaan apa pun sebagai berkarya. Melukis saya tekuni kembali, yang sebelumnya semasa kuliah sudah mulai turut andil berpameran di Jakarta, Bali dan Jogja juga. Seperti awal-awal event FKY di Jogja dan Jambore Seni Rupa Nasional di Jakarta. Pak Mahyar, seorang pelukis dan guru di SMKN Seni di Bugisan dan pak Godod Sutejo (pelukis), keduanya adalah bagian dari panitia atau pengelola dua kegiatan tersebut, mungkin lupa-lupa ingat dengan saya bila bertemu kembali saat sekarang. Selain itu, peluang serabutan apa saja juga saya ambil.

Saya pernah mendirikan usaha kerajinan sandal spons. Kemudian sempat ada usaha kerajinan bikin bola sepak yang direkomendasikan saudara. Pernah juga ikutan asosiasi petani agro bisnis dengan menanam melon daging merah dan cabai keriting. Setelah itu, berkembang memiliki konter servis hp selama 8 tahun. Kegiatan MLM yang marak pada saat itu juga tak ketinggalan, ikutan beberapa macam.

Kemudian setelahnya pernah pula menjadi kepala cabang sebuah CV yang melayani pemasangan flexi portable rumahan dan wartel yang sempat boom saat itu di Gunungkidul. Lalu pernah ada usaha dengan teman, menjalani bisnis distribusi sembako namun akhirnya bangkrut karena ada salah satu karyawan yang menggelapkan uang setoran.

Hingga kurang lebih 10 tahun yang lalu, saya mulai mengembangkan diri pada pengetahuan dunia digital. Lalu mulai membuka pelayanan jasa IT, pembuatan aplikasi dan website toko online secara mandiri di rumah. Sambil ikutan bisnis ternak semut yang pada akhirnya ternyata hanya diakali si bos, hingga modal dan keuntungan ratusan juta raib, belum kembali hingga sekarang.

Setelah itu, sempat pula joinan dengan teman dengan mendirikan sebuah CV dengan status komisaris, usaha yang berbasis IT kembali dengan menyediakan produk layanan transportasi, jual beli dan pariwisata secara online. Namun akhirnya juga gulung tikar, kalah modal untuk bakar uang, kalah bersaing dan dihempas korona. Merugi kembali dengan nilai total aset fisik dan digital mencapai miliaran.

Akhirnya, sebuah keputusan yang salah dan memperburuk suasana justru terjadi ketika ingin mengambil jalan pintas untuk mengatasi keadaan ekonomi dengan ber-trading dan mengakibatkan loss puluhan juta.

Perjalanan spiritual saya, dari tahun 1999 hingga sekarang tahun 2023, berarti sudah berjalan 24 tahun. Tidak selalu mulus, dengan banyaknya kejadian tentu membuat mental fluktuatif. Hingga di usaha yang terakhir kolaps, betul-betul membuat psikis drop. Walaupun sebelumnya saya sudah sering memanifestasikan harapan-harapan berdasarkan pikiran positif, hingga saya dan istri diberi amanah memiliki beberapa motor, rumah dan mobil impian, termasuk istri adalah bagian dari impian spiritual pribadi saya.

Namun rupanya, pada 5 tahun terakhir itu saya harus mengalami fase tapa wirang. Dengan modal yang habis, sebagian motor dan mobil hingga dua kali juga sudah habis terjual, dan masih menyisakan tanggungan pinjaman di bank dan lising. Meski saudara-saudara sudah turut membantu dengan meminjami juga. Sementara, penghasilan hanya bergantung dari peluang serabutan di masa korona dan penghasilan istri yang sudah kepotong lebih dari tiga perempatnya untuk cicilan juga. Mencari peluang kerja lainnya juga sudah terbentur dengan usia yang hampir setengah abad.

Betul-betul suasana dan kondisi yang depresif dan perasaan malu yang dalam, begitu pun istri dan anak-anak kena imbas ikut merasakannya, bahkan mereka lebih tertekan. Pembayaran biaya sekolah dan kuliah anak juga ikut tersendat. Tiap bulan selalu ditagih kolektor dan uang tidak pernah cukup. Gali lobang yang lain pun sudah mentok, selain juga rasa malu yang menghinggapi, setiap kali akan cari pinjaman. Siang serasa dihina dan malam sengsara. Mau bernapas lega serasa sangat susah.

Namun begitu, saya dan istri tetap selalu berusaha dekat denganNya, selain yang wajib, tetap melaksanakan amal-amal sunnah lainnya.

Akhirnya saya sadar dan teringat, bahwa semua pinjaman yang saya miliki hanyalah berasal dari sesama manusia. Sedangkan apa pun yang masih ada pada diri saya, termasuk jiwa raga saya adalah pinjaman dari Tuhan. Jadi, kenapa saya mesti takut, sedih, khawatir terhadap sesama manusia, melebihi rasa yang seharusnya kepadaNya. Mengalir saja dan hadapi semua permasalahan yang ada, tanpa meremehkan siapa pun dan tetap berkomitmen untuk menyelesaikannya. 

Memang, wawasan spiritual saya selama puluhan tahun tidak mengkaji secara khusus tentang bagaimana caranya menggapai hidup berkelimpahan materi yang diridhloiNya. Dari awal, memang saya sudah sering melakukan afirmasi dalam bentuk pikiran posistif yang waktu itu tidak tahu, afirmasi itu sebenarnya apa. Hanya sebatas pemahaman pada wawasan saya berspiritual. Pun cara menggali potensi, pengembangan serta pemanfaatannya seperti apa, saya belum mengerti, apalagi hubungannya dengan energi dan vibrasi. 

Hingga saya sampai pada titik dipertemukan dengan seseorang sefrekuensi di dunia maya. Ia telah sukses, berspiritual dengan berdasarkan wawasan berkelimpahan. Ia asli orang Indonesia (Jawa Tengah) namun sekarang tinggal di luar negeri.

Hampir semua tutorial dalam video-videonya saya serap. Lalu, saya pun mengeksplorasi referensi dari banyak sumber video-video lainnya, termasuk buku-buku bacaan dan artikel-artikel di internet. Selain juga selalu bermujahadah dan berusaha selalu dekat denganNya.

Akhirnya, saya menemukan simpul-simpul wawasan berkelimpahan rezeki yang terkoneksi dengan pengetahuan dasar spiritual saya, yang nota bene, berorientasi pada pemahaman dan pengamalan berkelimpahan non materi. 

Kemudian setelahnya, saya mulai padu padankan antara keduanya, juga dengan pengetahuan tentang keberuntungan. Hingga akhirnya saya formulasikan dalam catatan kecil dan mulai saya praktikkan dengan beberapa teman suka relawan sampai akhirnya saya merangkai tulisan pada buku dengan judul  "Journey of The Fortuner".

Memang, uang atau harta benda bukan segalanya dan sama sekali bukan merupakan tujuan dan misi hidup. Tapi di masa modern ini, segalanya memang butuh uang dan sarana prasarana lainnya untuk menunjang kerasnya kehidupan, dan semuanya harus membayar. Ruang dan waktu semakin tinggi nilainya di zaman modern ini, berbeda jauh pada zaman yang telah lalu. Perkembangan budaya bergeser lebih pada nilai-nilai kebendaan. Saya sadari, memang setiap zaman membawa konsekuensi kehidupannya sendiri. Jika saya dan keluarga hidupnya di tengah hutan dan hanya fokus beribadah kepadaNya saja, tentu konsekuensi kehidupannya tidak seperti ini.

Saya berharap kepadaNya, semoga apa yang saya dan keluarga alami pada waktu yang telah lalu, seperti layaknya hidup di dasar samudera, dengan ikhtiar kami untuk selalu dapat menjalaninya dengan ikhlas, semoga mendapatkan ridhloNya. Dan menjadikannya titik balik untuk menyembul kembali ke permukaan.

Untuk itu, pada waktu itu saya sudah meneguhkan hati untuk semakin menyelaraskan panggilan jiwa saya kepadaNya. Dalam kehidupan saya selanjutnya, saya akan lebih melengkapi pengabdian kepadaNya melalui karya-karya dalam gambaran berikut;

Saya ingin lebih berbagi, dari apa pun yang menjadi amanahNya melalui saya, baik itu ilmu maupun materi kepada sesama yang membutuhkan dan alam semesta.

Untuk itu, saya telah berafirmasi,

“Saya merasa sangat beruntung, mendapatkan banyak sekali keberuntungan berupa pembelajaran dalam hidup. Segala fasilitasNya baik materi dan non materi telah menjadikan saya selalu ikhlas dan semakin dekat denganNya. Termasuk jiwa raga saya, adalah fasilitas dariNya.

Saya beruntung telah dianugerahi keberuntungan seorang istri yang sholehah, menjadikan saya tetap kokoh, bersama-sama berproses menuju insan kamil, yang tanpanya saya pasti oleng dan tak sanggup membayangkan kejadiannya. Anak-anak kami pun sholeh dan sholehah.

Saya merasa sangat beruntung beroleh keberuntungan berupa uang sebesar tiga miliar rupiah. Darinya saya mampu menyelesaikan masalah dan kebutuhan pribadi, keluarga, orang tua dan saudara-saudara saya sebesar satu miliar rupiah. Dan sisa dua miliar rupiah, digunakan untuk modal mengelola sebuah yayasan dalam bidang sosial, kemanusiaan dan agama. Mendirikan bangunannya, menyusun program-programnya dan membantu bagi siapa saja yang membutuhkan. Memberikan pendampingan cara bangkit berspiritual sejahtera, membantu bagi mereka yang terjerat hutang dan kebutuhan hidup lainnya serta pendidikan agama dalam pesantren.

Terima kasih yaa Allah, atas semua keberuntungan yang saya terima. Keberuntungan yang mendasari keberuntungan-keberuntungan lainnya. Saya merasa sangat beruntung. Saya sepenuhnya menyadari, saya bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa selain semua daya upaya adalah bersumber padaMu. Saya sangat bersyukur atas semua fasilitasMu itu.”

Pada saat saya sebelum menyusun buku Journey of The Fortuner-part 1, saya sudah  memvisualisasikan semua itu sudah terjadi. Waktu itu saya juga tidak sedang berekspektasi dengan berimajinasi secara mutlak, untuk mendatangkan keberuntungan. Karena saat itu merupakan pertama kalinya, saya mengamalkan pencerahan kedua yang saya peroleh secara terstruktur. 

Dalam batin saya, saya bukan mau sombong, sama sekali tidak terbersit. Saya hanya sedang menguatkan batin saya yang terpuruk bahwa saya masih memiliki sisa lukisan koleksi pribadi yang bila ditotal mungkin nilainya miliaran. Hal ini semata-mata hanya agar harapan saya sinkron dengan realita pada saat itu. Sebelum saya beranjak pada goal setting selanjutnya yang mungkin tidak nyambung dengan realita.

Hal yang menguatkan itu, salah satunya dikarenakan lukisan yang saya anggap sangat bermakna, sebagai artefak sejarah dan monumen pencerahan di tahun 1999 lalu itu. Lukisan ini dibuat pada tahun 2001, oil painting on canvas 60 x 80 cm, yang berjudul '1Δ0≠10’ atau ’Antara Aku, Gunung dan Matahari'.



Lukisan Aku, Gunung dan Matahari
1Δ0≠10
Special for sale



Setelah itu, saya juga mulai memproses karya-karya lukis baru yang bernuansa energi atau vibrasi, terkait dengan topik-topik berkelimpahan rezeki dan karunia. Di mana karya-karya ini, saya proyeksikan mempunyai energi positif yang akan berdampak positif pula bagi semua kalangan yang memandang, memilikinya dan semesta.

Dapat juga dimaknai sebagai sarana dan acuan dalam pembelajaran berspiritual pada level-level tertentu atau bagi mereka yang telah memiliki pencapaian-pencapaian tertentu. Dalam artian, lukisan-lukisan saya juga akan membantu para spiritualis generasi baru dalam mengelola dan meningkatkan energi dan vibrasinya serta dapat sebagai pertanda dan petanda atau monumen pencapaian kolektifitas energi transendental para senior atau master spiritual.

Saya berasumsi kuat bahwa semua lukisan-lukisan saya akan mendapatkan jodohnya, sesuai kandungan unsur partikel di dalamnya yang memiliki kembarannya (quantum entanglement). Namun, saya tidak menutup kemungkinan, di mana semesta dan Tuhan akan mendatangkan keberuntungan dari pintu-pintu lainnya yang tak terbatas jumlahnya. 

Sebagaimana hal serupa yang saya harapkan terjadi pada pembaca semuanya, dalam bidang usaha apa pun.

Saya juga berasumsi bahwa sangat banyak calon-calon fortuner baru bermunculan, di berbagai daerah dan di belahan dunia mana pun. Saling bertemu, berbagi dan tolong menolong. Saling menguatkan. Ada kalanya hidup itu tersandung di jalan dan kejedot di langit (Jawa: Kesandhung ing rata, kejentus ing awang-awang).

Hingga semuanya benar-benar memiliki anugerah kemerdekaan waktu dan finansial, terbebas dari perbudakan imperialisme ekonomi dunia modern, dan menjadi distributor keberuntungan bagi lingkungan sekitarnya serta alam semesta.

Ya, saya melihat kolektifitas medan quantum fortuner semakin melanggengkan alam semesta. Tentu mereka sudah ada dan semakin bertambah banyak dengan kehadiran Anda semua.

Syair;

Aku merasa beruntung, sejak diciptakan pertama kalinya oleh Penciptaku atas kasih sayangNya dalam bentuk ruh. 

Dari tidak ada menjadi ada, dari bukan apa-apa menjadi sesuatu. Aku punya derajat dihadapanNya. Hanya saja, waktu itu aku belum diberi pengetahuan apa pun sehingga tidak tahu cara mengungkapkan rasa beruntungku dan berucap terima kasih untuk itu.

Setelah itu, rasa beruntungku kembali hadir, setelah Dia dengan hidayahNya memberiku  pengetahuan, sehingga aku mampu dalam taufiqNya berdialog denganNya.

Rasa beruntungku lagi-lagi bertambah ketika Dia menawariku sesuatu, agar meningkat lagi derajatku, dengan berpetualang menjadi manusia, sembari selalu menyembah, mengingat dan memujiNya, serta menjadi wakilNya atas pengelolaan bumi dan alam semesta semasa hidupku.

Terbayang, suasana betapa menantang dan melelahkan namun terasa sangat menyenangkan dan membahagiakan.

Dia berjanji, akan selalu memberiku pertolongan dengan inayahNya, petunjuk cahaya yang terang sebagai bimbingan, ilham sebagai bekal dan segala sesuatu selama perjalanan itu secara berlimpah.

Akupun setuju, maka ditiupkanlah aku bersama nafsku ke dalam janin di perut ibuku, hingga terlahir ke dunia dan sekarang ini menjadi manusia.

Aku sangat beruntung dan bersyukur atas semua itu.
Aku bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, tidak tahu apa-apa, tidak punya apa-apa, sama sekali tidak berdaya, namun selalu dibelaiNya, dituntunNya, diperhatikanNya hingga semua permintaankupun dipenuhiNya dengan segenap kasih sayangNya.

Sungguh beruntungnya aku.

Hidupku dan keluargaku kini berkelimpahan, bahagia, damai dan penuh cinta kasih sayang dengan cahayaNya. Tak ada satu kekuranganpun yang kurasakan kecuali aku tidak tahu lagi cara berterima kasih kepadaNya.

Di sisa hidupku, aku hanya ingin menjadi keberuntungan bagi sesama dan alam semesta. Sebagaimana keberuntungan yang selalu kuterima.

Mungkin, itu bisa sedikit mengurangi beban kurangnya syukurku kepadaNya yang tak sebanding dengan karuniaNya, bagai langit dan bumi.

Aku sangat beruntung.
Aku sangat beruntung.
Aku sangat beruntung.

Yaa Pencipta dan Pecintaku, sampaikan sholawat, salam dan rasa cintaku pada penyampai risalah kebenaranMu yang terakhir di dunia ini, kanjeng Nabi Muhammad SAW, serta ijinkan aku melalui bimbingan taufiqMu, bersama pasanganku, keturunanku, orang tuaku, mertuaku, saudaraku, guru-guruku dan semua orang yang Kau ridhloi, kembali lagi kepadaMu, sama saat aku bersamaMu.....dulu.


EB Wahyuno dan istri
Saya dan istri



EB Wahyuno



Posting terkait : Hidup Selalu Beruntung dengan Keberuntungan dan Berkelimpahan, Mungkinkah?





home    back

Komentar