Kebanyakan orang beranggapan bahwa keberuntungan adalah suatu hal positif yang dihadirkan alam di luar nalar dan ekspektasi manusia. Suatu hal yang tidak semestinya, kadang dianggap tidak relevan dengan keadaan si penerima dan kehadirannya tidak dapat dikendalikan namun selalu dalam makna positif.
Sehingga memunculkan rasa senang, gembira, bahagia dan syukur.
Misal, seseorang tiba-tiba saja memenangkan sebuah undian tanpa berharap apa pun yang sontak membuatnya sangat kegirangan.
Contoh lain, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba, menyadari kemampuannya yang pas-pasan maka ia pun tak mengharapkan jadi pemenang. Namun hasil akhirnya justru sangat mengejutkan karena ia ternyata keluar sebagai juara pertamanya.
Dan kejadian-kejadian lainnya yang sering kita jumpai dalam hidup keseharian, bisa jadi hal kecil dan sederhana yang tak terpikirkan sebelumnya namun dibutuhkan dan sangat mendesak, mendadak saja muncul solusinya.
Pandangan Umum
Ide tentang adanya fenomena perasaan beruntung dengan mendapatkan keberuntungan seperti ini, mulai dikenal dunia sejak kejadian yang tak langsung dialami oleh Isaac Newton 1643 - 1727, meski sebenarnya agama telah mewartakan perihal keberuntungan ratusan tahun sebelum ia lahir dan telah eksis sejak manusia pertama di muka bumi.
Waktu itu ia sedang tiduran di tanah, di bawah pohon apel. Lalu tiba-tiba saja ia kejatuhan buah apel. Hal ini membuatnya berpikir keras, kenapa ia beruntung mendapatkan buah apel tanpa harus berusaha memetiknya. Seolah ada tuas atau tangan yang melempar apel kepadanya. Secara singkatnya, akhir dari kejadian ini kemudian melahirkan salah satu hukum fisika, yaitu hukum gravitasi yang ia tulis dalam bukunya Principia pada tahun 1687. Tanpa ia tahu penyebab, kenapa apel itu jatuh pada momen ia berada di bawahnya. Kenapa tidak satu menit lebih cepat, sebelum ia datang atau lambat setelah berpindah dari tempat itu?
Pandangan keberuntungan seperti kejadian tersebut, dapat dikategorikan sebagai perspektif keberuntungan metafisika. Terdapat sebuah misteri kekuatan tak kasat mata yang melatarbelakanginya.
Sejauh ini, peradaban modern telah mengenal adanya 13 hukum alam (secara umum) yang mendasari kinerja jagad raya namun tak satu pun dari hukum tersebut yang mengakomodir eksistensi fenomena keberuntungan, sebagaimana gambaran tersebut. Sehingga memunculkan spekulasi adanya faktor ‘X’ (anomali) di alam semesta atau dipupus dengan pernyataan adanya keajaiban atau mukjizat Tuhan bagi kalangan religius dan spiritualis.
Pandangan keberuntungan dalam perspektif metafisika ini mendapat bantahan keras dari beberapa kalangan ilmuwan fisika yang berorientasi pada wujud materi (fisik). Menurut mereka, keberuntungan bukanlah keberuntungan, melainkan sebuah akibat atau hasil dari serangkaian usaha yang sepadan dan sejenis.
Misal, ada seseorang yang bekerja sebagai tukang bangunan maka ia pun akan mendapatkan keberuntungan berupa upah yang sepadan dengan jerih payahnya atau mendapatkan bonus dan hadiah yang berkaitan dengan profesi pertukangannya itu.
Dr. Tina Seelig, seorang profesor di Department of Management Science and Engineering (MS&E) di Stanford University, di mana ia telah menulis kurang lebih 17 buku sesuai bidangnya, pada waktu yang telah lalu menulis dalam unggahan pribadinya di situs Medium dan rekaman momen wawancaranya tentang fisika keberuntungan yang diterbitkan oleh GQcom.
Ia mengungkapkan bahwa seseorang janganlah cepat tertipu oleh versi sederhana dari cerita seseorang lainnya. Ada banyak hal yang perlu dilakukan oleh seseorang sebelum, selama dan setelah ia mendapatkan saat-saat terbaik dalam hidupnya. Jika hanya fokus melihat pada satu waktu saja, orang tersebut tentu akan memandang momen itu sebagai sesuatu hal yang tiba-tiba, yang pada akhirnya membuat orang itu berkesimpulan bahwa keberuntungan memang berasal dari sesuatu di luar diri. Betapa keadaan seseorang yang dipandang tersebut sangat beruntung. Hidupnya berlimpah, bahagia, tenang dan damai.
Orang yang memandang ini sama sekali tidak mengerti bahwa seseorang yang sedang diperhatikan itu, telah melakukan segala daya upaya, bekerja secara konsisten dan terstruktur sehingga menghasilkan apa yang dilihatnya itu. Ia tidak sadar bahwa apa yang ia lihat, hanya berupa setitik potongan kecil waktu dari serangkaian proses yang panjang, yaitu hanya pada saat tercapainya kesuksesan.
Menurut Richard Wiseman, seorang profesor psikologi di Universitas Hertfordshire, Inggris. Ia juga penulis dari buku The Luck Factor. Ia telah menjalani banyak penelitian mengenai keberuntungan dan menyimpulkan bahwa ada 4 hal dasar yang membuat orang beruntung, yaitu mereka memaksimalkan setiap kesempatan, mendengarkan intuisi, memiliki sikap optimis dan melihat setiap hal dari sisi kebaikan meski dalam keadaan terburuk sekali pun. Hasil temuan ini menyimpulkan bahwa keberuntungan lebih merupakan sebuah penilaian psikis, di mana disiplin ilmu ini masuk ke dalam ranah fisika materi juga.
Sehingga menurut kalangan fisikawan ini, keberuntungan sangat terkait dengan hukum alam, setidaknya melibatkan hukum sebab akibat, hukum usaha dan hukum kompensasi.
Cara pandang dari kedua kubu di atas (fisika materi dan metafisika), tidak dapat dibenarkan ataupun disalahkan seratus persen. Sebab, keduanya memang mengandung unsur kebenaran dan memiliki korelasi saling terkait serta saling melengkapi satu sama lain. Pandangan tentang beruntung dan keberuntungan memang memiliki seperti dua sisi mata uang dan keduanya harus dimaknai secara holistik.
Seperti kembali pada kisah Isaac Newton, meski ia tidak paham kenapa apel itu jatuh tepat pada momen ia berada di bawahnya. Ada hal yang hampir bisa dipastikan bahwa mustahil apel itu jatuh mengenainya jika ia tidak berada di tempat itu. Seolah keberadaannya di lokasi tersebut merupakan sebuah tindakan riil yang dapat diupayakan, sebagaimana pendapat Richard Wiseman, memaksimalkan peluang yang ada. Namun, siapa yang menggerakkannya ke tempat itu, sedangkan ia berada di tempat tersebut bukan secara sadar mengharapkan kejatuhan buah apel. Sepertinya menjadi semakin rumit saja mencari jawaban dari fenomena beruntung dan keberuntungan ini.
Keadaan seperti ini, akan terasa sangat sinkron dengan perkembangan ilmu fisika. Berawal dari prinsip fisika klasik hingga pada perkembangan baru yang ditemukan oleh para ilmuwan modern pada abad antara ke-18 dan 19 yang masih terus berproses hingga sekarang. Di mana terdapat konektifitas yang tak terpisahkan antara metafisika dan fisika materi, dalam hal pemecahan misteri dan kinerja alam semesta, termasuk juga proses atau mekanisme terjadinya keberuntungan di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar
Tanggapi artikel ini atau tanyakan hal yang kurang jelas