Purifikasi - Memantaskan Diri Menerima Keberuntungan dan Berkelimpahan, Tahapan Pembentukan Fortuner #1

KategoriImplementasi | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog


Meditasi
Foto: Freepik



Daftar isi


Persiapan

Pada detik sekarang ini, di antara semua umat manusia di muka bumi pasti tidak akan sama keadaannya. Ada sebagian orang yang hidupnya dengan keluarga baik-baik saja. Semua kebutuhan kesehariannya telah tercukupi, hampir tidak ada masalah yang kritis terjadi. Ada pula sebagian lainnya yang hidup sudah secara berkelimpahan, merdeka finansial dan waktu. Hampir semua keinginannya dapat terealisasi. 

Namun, tidak sedikit pula orang-orang yang nasibnya kurang beruntung, hidupnya terjerat hutang atau keuangan yang mepet, terjadi disharmoni keluarga, hubungan dengan calon pasangan yang menggantung, permasalahan kerjaan, penyakit yang tak kunjung sembuh, terkucil di masyarakat, tenggelam dalam dilematika kehidupan yang kompleks sehingga beban terasa sesak di dada. 

Bingung cari solusi, semua jalan terasa buntu. Tak ada seorang pun yang dapat membantu mengentaskan masalah, justru terasa setiap orang seperti menjauh atau bahkan memusuhi.

Apa pun itu yang menandakan indikasi level kesadaran pada zona force (di bawah 200), cukuplah sampai di sini.

Siapa pun dan di mana pun seseorang itu atau mungkin juga kita di dalamnya, tidak perlu lagi buang waktu, tenaga dan pikiran dengan percuma yang imbasnya malah memperumit keadaan. Saatnya sekarang untuk menyadari, tanamkan kemauan untuk berubah. Bangkitkan spiritual sejahtera lahir batin dari keterpurukan. Mulai mencoba dan merasakan ketenangan, serta segala kepositifan di dalam dimensi fortuner, sebagaimana gambaran berikut.

Dimensi (zona) fortuner adalah alam yang menghubungkan langsung antara hamba dan Penciptanya tanpa sekat. Alam yang mempertemukan kemauan hamba dengan kehendakNya yang penuh dengan cinta kasih sayang.

Kita akan menjadi orang yang beruntung secara hakiki bila berada di dalamnya. Bukan cuma untung-untungan yang sekedar mendapatkan keberuntungan. Meski sebenarnya, apa pun bentuk keberuntungannya merupakan wujud kasih sayangNya, sewaktu membelai hambaNya, siapa pun itu.

Gambaran fortuner berarti gambaran orang beruntung yang sejati. Ia selalu mendapatkan keberuntungan yang hakiki pula. Bahkan dapat bertransformasi dari sekedar beruntung menjadi keberuntungan itu sendiri yang berdampak positif bagi diri sendiri, lingkungan sekitar dan alam semesta. Terus menerus hingga menuntun seorang hamba yang tersifati fortuner, selalu naik level dan semakin dekat denganNya. Hingga di sana tidak perlu lagi bimbingan dari sesama yang sering bias dan ambigu. Kasih sayangNya melebihi dari cukup akan semua kebutuhan hidup, melimpah ruah.

Jika seseorang menginginkan menjadi fortuner berkelimpahan materi atau penuh karunia atau bahkan keduanya adalah perkara yang sangat mudah direalisasikanNya, selama memenuhi syarat kepantasan dan sinkron dengan semesta serta kehendakNya tersebut. Itu saja. Dan itu juga sangatlah mudah.

Dan jika kita menginginkan hal yang sama seperti seseorang tersebut maka sebelumnya, pada detik ini juga, apa pun keadaan kita sebagai kondisi awal untuk memulai, sadari bahwa hidup yang berharga dan indah ini masih bisa dinikmati. Orang-orang yang mencintai masih berada di sekitar kita, selalu mendukung dan terus mengharapkan yang terbaik dari kita serta terjadi pada diri kita.

Oksigen yang segar dan gratis, masih dengan leluasa dapat dihirup. Rezeki yang nyata, yang di tiap detiknya selalu ada dan terus diberikanNya dengan percuma. Lancar sekali, sangat melegakan, sama sekali tidak mengisyaratkan akan terjadinya gagal bernapas. Jantung pun berdetak dengan irama kasih sayangNya. Sungguh, Yang Maha Kasih dan Penyanyang, saat ini masih memperhatikan, sedang menatap dan bersiap untuk meraih tangan kita.

Maka dari itu, mari persiapan untuk menyambut momen ini dengan tarik napas yang panjang. Dan, sekarang lakukan. Hirup udara yang masuk melalui hidung, rasakan dan tahan sebentar, lalu ucapkan dalam hati, 
"Aku beruntung, saat ini masih bisa bernapas dengan lega. Jantungku berdetak dengan normalnya".

Hembuskan secara perlahan. Ulangi beberapa kali hingga merasakan tenang, tenteram dan damai di jiwa.

Lalu, tak lupa pula ucapkan rasa syukur kepadaNya bahwa detik ini juga, masih bisa merasakan nikmatnya hidup dan dalam keadaan sadar yang utuh. Kesampingkan dulu hiruk pikuk pikiran yang berkecamuk di dalam otak. Lakukanlah hal ini tiap hari setelah bangun tidur, sebelum mengawali aktifitas lainnya.

Tahap selanjutnya adalah memasuki proses memantaskan diri, yaitu tahap purifikasi atau pemurnian atau pembersihan diri. Dan nantinya diteruskan dengan tahap sinkronisasi, yaitu berupa tindakan menginstal ulang memori dengan pemahaman fortuner pada alam bawah sadar (otak bawah sadar), agar memiliki perasaan, pemikiran, perkataan dan perilaku serta tindakan yang selaras dengan hukum alam dan cahayaNya, yang akan dijelaskan satu per satu sebagaimana berikut.


Pengertian Purifikasi - Memantaskan Diri

Kenapa tahap ini sangat penting untuk dilakukan? Sebab pada titik ini, merupakan hal mendasar yang paling krusial, juga sebagai garis pembatas, penentu seseorang dinyatakan baik atau buruk, dominan bersih atau kotor dalam pandangan agama, pembeda antara hamba dengan Penciptanya, penanda seseorang berada pada zona power ataukah force pada skala Hawkins.

Tahap memantaskan diri ini dapat diklasifikasikan pula sebagai sarana untuk mengidentifikasi esensi perasaan (alam bawah sadar) dan pemikiran (alam sadar) pada manusia, apakah memiliki koherensi atau tidaknya.

Setelah hadirnya kesadaran utuh pada manusia dewasa, memang berakibat paradoks. Semestinya manusia hanya mengikuti kecenderungannya, hanya menjadi baik dan menerima akibat yang baik pula, sesuai rancanganNya yang diinginkan dari makhluk, bukan dariNya kepada makhluk.

Kenyataannya, manifestasi materi atau adanya beraneka ragam bentuk kebendaan di dunia, mengakibatkan beralihnya kepentingan dan cara pandang manusia. Alam semesta ini sejatinya adalah hanya 'permainanNya'. Tidak mutlak atau ada keharusan bagiNya untuk menciptakan segalanya. 

Kita, pada detik ini tidak ada, kosong, hampa, apabila Dia tidak menginginkannya. Semuanya ada hanya karena sebatas keinginanNya, bukan keharusanNya.

Dengan menciptakan makhluk, Dia hanya ingin menunjukkan kasih sayangNya kepada semua ciptaanNya. Maka dengan kuasa dan kehendakNya, Dia menciptakan semua hal yang dapat ditangkap panca indera, diketahui dan dipahami umat manusia maupun yang tidak.

KehendakNya ini terbagi menjadi dua, yaitu segala hal yang berwujud maupun yang tak kasat mata yang telah menjadi ketetapanNya, berlaku kepada setiap ciptaanNya di seluruh jagad raya dan kehendak yang diinginkan dari makhlukNya, yaitu berupa perbuatan, khususnya dari manusia dalam menjadi wakilNya. Melaksanakan penyembahan atas pengakuan dari limpahan kasih sayangNya sebagai hamba dan melaksanakan tugas sebagai utusan dalam berbagai jenjang (setiap manusia berbeda) sebagai pengelola alam semesta yang merepresentasikan penuh limpahan kasih sayangNya. 

Dari sinilah permainanNya ini dimulai. Semuanya menjadi serba mungkin, bahwa dunia dan alam ini akan berubah menjadi lebih baik atau malah sebaliknya. Limpahan kasih sayangNya akan semakin bertambah banyak atau justru berubah sebaliknya, sebagai akibat, dari sebab keburukan atau kesalahan yang ditimbulkan oleh manusia.

Oleh karenanya, sudah sangat jelas tergambarkan, bagaimana peran manusia menjadi sentral perubahan terhadap alam semesta. 

Dari segi fisik kebendaan, kita semua tahu dan sangat memahami bahwa manusia berdasarkan ilham dan tuntunanNya dapat menciptakan segala sesuatu sebagai kreator. Hingga pada hal-hal yang bersifat metafisik, saat ini banyak kajian dan rumusan ilmiah yang diungkap serta sudah tersebar luas dikarenakan kecanggihan telekomunikasi, yang dulunya merupakan bagian dari ilmu hakikat, misteri alam semesta. Bersifat mistis, di luar jangkauan pemikiran manusia.

Kemajuan teknologi juga sangat pesat di semua bidang. Semakin memudahkan manusia dalam menjalani kehidupannya. 

Secara metafisik juga dapat tergambarkan pada diri manusia, betapa kuatnya medan energi yang bersumber dari kekuatan pikiran dan perasaan, yang kemudian terpancarkan dan memengaruhi alam semesta secara langsung.

Secara energi, kita sudah mempelajari hal ini pada posting-posting sebelumnya bahwa alam semesta adalah medan quantum yang dahsyat. Apabila bumi dilihat dari seukuran molekul atau hanya sebesar atom maka wujud manusia tak lebih besar daripada quarks, namun memiliki andil besar dalam menentukan pengaturan dan pelestarian jagad raya.

Semua unsur materi hingga yang terkecil sekali pun, mempunyai pengaruh energi yang signifikan terhadap alam semesta dan begitu juga sebaliknya, berimbas kembali kepadanya. Disadari atau tidak, disengaja atau tidak dan dipercaya atau tidak. KetetapanNya terhadap makhluk akan terus berproses.

Alam semesta memiliki empat gaya (kekuatan) fundamental yang sama persis pada medan quantum setingkat atom.  Yaitu gaya elektromagnetik, gaya gravitasi, gaya inti (nuklir) kuat dan gaya inti (nuklir) lemah. Keempatnya bekerja secara sinergi terintegrasi, tidak terpisahkan. Keempat gaya ini menjelaskan proses pembentukan alam semesta dari awal, pengembangannya, pengaturannya hingga kepada pemeliharaan atau pelestariannya, sebagaimana telah kita pahami pada bahasan sebelumnya.

Keberadaan manusia saat ini, dapat diasumsikan masuk ke dalam zaman di antara pengaturan dengan pemeliharaan, di mana alam dan seluruh entitas di dalamnya masih terus berproses menjalani evolusinya.

Kita tidak bisa mengartikan bahwa hubungan manusia dengan alam semesta hanya sebatas tarik menarik saja atau tolak menolak berdasarkan prinsip elektromagnetik. Atau hukum gema, atau hanya karena adanya gravitasi. Seandainya tidak ada salah satu dari keempat gaya fundamental saja, sudah berarti hancur musnah jagad raya ini, meski hanya terjadi pada tingkat atom.

Maka dari itu, berdasarkan semua uraian yang telah dilalui dapat ditarik kesimpulan bahwa secara umum, umat manusia yang ada sekarang merupakan efek dari usaha, evolusi dan adaptasi umat manusia pendahulunya dan secara khusus, realita umat manusia sekarang adalah apa yang ia pikirkan dalam alam bawah sadarnya pada waktu sebelumnya, baik disengaja ataukah tidak.

Apa yang telah dipikirkan dalam alam bawah sadarnya di waktu yang lalu itu, menjadi vibrasi dan menjelma secara riil di saat sekarang dan apa yang dipikirkannya sekarang, akan berwujud di waktu yang akan datang. Jagad raya sesuai keterikatan energi dalam medan quantum semesta, akan merespon dan memanifestasi pikiran bawah sadar manusia menjadi realita. Baik atau pun buruk.

Namun, kali ini kita tidak akan membahas tentang keburukan ataupun kejahatan yang menjadi sisi gelap manusia. Langsung saja bahasan akan berfokus pada kebaikan.

Di sinilah poin krusial bagi seseorang. Kita dapat mengamati orang-orang di sekitar kita yang mengaku atau menganggap dirinya sebagai orang yang baik, berkelakuan baik, bersifat baik, ternyata belum tentu kenyataannya baik pula. Hal ini dapat dicermati melalui rumusan Hawkins (baca: Hubungan dan Kinerja Antara Otak Sadar, Bawah Sadar dan Hati). Orang-orang tersebut justru terindikasi memiliki kesadaran utama dan karakter yang berada pada zona force sehingga menghasilkan energi negatif yang akhirnya kembali mengimbas dan menggulung dirinya serta berimbas pula kepada orang-orang di sekitarnya. 

Sebagian orang merasa dirinya tidak berharga, malu bukan karena aib. Ada pula yang selalu merasakan hal-hal negatif lainnya, seperti sial, jauh dari keberuntungan, diliputi rasa bersalah akan suatu hal di masa lampau dan merasa tak termaafkan, berpikir secara destruktif, suka menyalahkan orang lain, punya rasa apatis, kecewa, dendam, timbul rasa sedih berlebihan, rasa pesimis dan takut melihat dunia, punya amarah yang besar, punya keinginan yang arogan dan suka merendahkan orang lain, bangga secara berlebihan terhadap uang, harta, kemewahan, jabatan, kehormatan, gaya hidup yang bila tidak tercapai, justru merasa putus asa dan lain sebagainya.

Jujur, apakah saat ini, di dalam diri kita juga masih mempunyai semua pemikiran, sifat atau rasa-rasa yang demikian? Meski kita mungkin juga mengaku berkesadaran utama yang baik. Bila iya, lalu apakah kira-kira kita memang patut mendapatkan suatu hasil, dari apa saja yang kita doakan, harapkan dan cita-citakan atau justru lebih dari itu, sebuah keberuntungan besar di luar nalar? 

Bagaimanakah kira-kira semesta akan merespon, jika semua harapan yang baik dalam kesadaran kita tersebut tidak sesuai dengan semua sifat dan perasaan yang selaras, justru sebaliknya terindikasi memiliki gambaran sifat, perasaan dan pemikiran seperti di atas, di mana hal-hal tersebut secara jelas dikategorikan dengan sebutan 'mental block' di dalam alam bawah sadar? Hal ini merupakan sebuah pertanyaan besar yang harus segera dijawab.

Otak sadar (pikiran) dan bawah sadar yang memanifestasikan perasaan harus koheren, sama. Inilah jawabannya. Sesederhana ini.

Misal, bila pikiran menginginkan suatu keadaan yang menyenangkan maka perasaan juga tidak boleh susah. Bila kesadaran ingin sukses maka perasaan pun harus bahagia sebagai citra sukses. Tidak terbalik sukses dahulu, baru setelahnya bahagia. Hal ini tidak akan pernah terealisasi.

Pikiran sadar dan bawah sadar tidak boleh bertolak belakang. Mental block harus dimusnahkan, agar tidak menghalangi dan menjadi penyebab terhambatnya realisasi keinginan ataupun ketika berdoa kepadaNya. Kita mesti ingat bahwa semuanya bekerja berdasarkan energi quantum.
“Biarkan pergi semua residu perasaan di zona force tersebut. Musnahkan semua sampah emosi masa lalu. Relakan. Lupakan. Ikhlaskan!”
Ketika mereka (mental block) muncul, detik itu juga, bukan cuma sistem bioelektromagnetik yang menghasilkan vibrasi negatif, yang secara bersamaan turut timbul, tetapi juga biokimia dalam tubuh yang memproduksi hormon kesetresan, seperti kortisol, norepinefrin dan adrenalin, akan langsung dikeluarkan melalui kelenjarnya dan mengakibatkan rasa depresi dan rasa-rasa mental block yang lainnya turut menggejala. Hal ini adalah sebuah realita kinerja otomatis otak bawah sadar yang sangat jarang sekali dipahami oleh sebagian besar warga masyarakat kita.

Kejadian seperti hal tersebut sama saja, ketika sedang berdoa, meminta sesuatu kepada Tuhan tetapi hati menyangkalnya. Padahal pikiran sudah berusaha meyakini bahwa Dia pasti akan mengabulkan semua permintaan hambaNya. Sesuai janjiNya. Padahal meminta sesuatu berupa materi pun sudah merupakan indikasi yang salah.

Saat berdoa, kesadaran dapat berucap syukur, namun selesai berdoa, berlanjut ngedumel atau mengeluh. Bukankah mengeluh lawan katanya bersyukur? Artinya, seseorang yang mengeluh, sejatinya tanda orang yang tidak bersyukur. Hanya orang bersyukurlah yang akan ditambah nikmatnya dan yang kufur (antonim syukur) akan menerima hukuman yang pedih. Di antaranya tadi adalah doa yang malah tidak pernah terkabul dan masalah justru datang semakin banyak. Belum lagi efek psikis lainnya dan yang terparah adalah dapat memengaruhi kesehatan fisik, menyebabkan timbulnya suatu penyakit.

Itulah realita berupa dampak perbuatan yang secara tak sengaja berarti berburuk sangka kepadaNya. Padahal sebenarnya order sudah siap dikirim, hanya tinggal sinkronisasi pengaturan dengan hukum alam saja. Bukankah jawaban doa tidak langsung jatuh di depan mata? Dan akhirnya, vibrasi negatif dari rasalah yang menjadi realita.

Sebaliknya, banyak pula orang yang berperilaku buruk, tapi hidupnya malah bergelimang harta. Tentu saja, hal ini tidak mengherankan, meski pikiran sadar dan perilakunya tidak baik namun hatinya selalu merasa senang dan bahagia karena kekayaan yang berlimpah, semua keinginan nafsunya tersampaikan. Senang dan bahagia adalah emosi atau citra dari rasa syukur, meski kata syukur yang merupakan adab kesopanan kepadaNya tidak pernah diucapkan.

Oleh karenanya, hal ini secara hukum vibrasi tetap akan membuatnya semakin bertambah hartanya. Inilah getaran hati manusia yang direalisasi oleh semesta meski tidak sinkron dengan kesadarannya.

Kemudian, masih ada hal lain lagi yang paling sering dilakukan seseorang ketika berdoa memohon kepadaNya, justru malah kesannya menyuruh. Tidak menempatkan adab kesopanan sebagai seorang hamba kepada Sesembahannya. 

Hal itu bisa ditilik dari susunan kata-kata dalam doanya dan hatinya yang tergesa-gesa, seolah menyuruhNya untuk mengabulkan.  

Semestinya adab berdoa dilandasi dengan rasa yang ikhlas, setelah itu kembali tetap melakukan usaha lahiriah dan batiniah lainnya semaksimal mungkin dan hasilnya pasrah total. Entah bagaimana bentuk realisasinya nanti, atau kapan waktunya terjadi, semuanya terserah Tuhan. Karena Dia lebih paham keadaan hambaNya, mau diberikan saat itu juga atau di waktu lainnya, dengan bentuk yang sesuai atau diganti dengan yang lebih baik dan bermanfaat atau lainnya lagi. Tak seorang pun umat manusia yang tahu, namun harus selalu berpikir dan bersikap berbaik sangka, bersabar dan tetap bersyukur atas apa pun yang sudah ada. Sesuai kelaziman yang semestinya dilakukan oleh seorang hamba terhadap Sesembahannya.

Penelitian ilmiah membuktikan bahwa peran perasaan yang kontraksi getarannya berpusat di jantung, dapat memiliki kekuatan 100 ribu kali lebih kuat daripada pancaran sinyal dari otak sadar yang ditransmisikan ke luar. Itu berarti, alam bawah sadar lebih berfungsi menjadi pemancar vibrasi ketimbang otak sadar yang cenderung bisa dibilang sebagai triggernya.

Lantas, langkah apa sajakah yang harus dilakukan untuk menghilangkan mental block tersebut?

Langkah Purifikasi

1. Biarkan Pergi – Let It Go

Sebagaimana dicuplik pada uraian di atas, langkah pertama adalah membiarkan semua rasa negatif (mental block) pada zona force pergi. Jangan disimpan dan diingat-ingat lagi. Sedapat mungkin dibuang jauh-jauh. Bila muncul seketika langsung ditepis, jangan dihiraukan dan diperhatikan. Caranya, selalu posisikan kesadaran utama 'Aku' duduk di singgasana kerajaan raga. Pikiran dan perasaan yang lain tidak boleh mengambil alih. Kendali tetap di tangan 'Aku'.

Kemampuan ini perlu dilatih secara berulang-ulang hingga kondisi yang semestinya tercapai.

2. Meditasi Sederhana

Melakukan sebuah treatment berupa meditasi sederhana untuk mencapai kemurnian jiwa. Yaitu dengan cara mengosongkan pikiran, diam dan hening. 

Kemudian dapat ditambah dengan metode mengatur pernapasan yang disertai dengan gerakan perut, bukan hanya sebatas pernapasan dada. Posisi duduk bebas, boleh bersila, bertimpuh, bersandaran atau di kursi. Hal yang terpenting yang semestinya dilakukan adalah posisi tulang belakang harus lurus tegak, agar aliran energi lancar.

Langkah selanjutnya adalah hirup udara dari hidung secara perlahan yang disertai dengan mengembangnya otot perut, tahan sebentar dan keluarkan perlahan lagi hingga perut dikempiskan total (ditarik ke belakang). Udara yang keluar bisa melalui hidung atau mulut, yang mana saja. Lakukan aktivitas ini minimal tiga kali dalam satu periode, setelah itu rileks dengan posisi bebas.

Efek dari kegiatan ini adalah

1. Dengan ritme pernapasan yang diperlambat ini, mengakibatkan oksigen yang dihirup akan cepat terserap dan mempolarisasi seluruh ion dalam tubuh menjadi searah, yang tadinya tidak beraturan. Sehingga memunculkan energi positif. Denyut jantung menjadi stabil, tidak berdebar dan tekanan darah beroperasi pada kondisi normal.

2. Gelombang otak menjadi menurun, yang semula berada pada frekuensi beta, turun pada kisaran alfa. Di mana pada fase ini merupakan kondisi paling sempurna, terjadinya sinkronisasi antara jiwa dengan raga.

3. Pada saat proses membuang napas dan perut mengempis, hal ini akan memicu pergerakan tulang ekor hingga berakibat terpompanya cairan serebrospinal dalam sumsum tulang belakang menjadi bergerak ke atas, hingga menyundul bagian luar kelenjar pineal yang berada di tengah-tengah otak dan berakibat dikeluarkannya hormon melatonin. Yaitu, selain sebagai pemicu kantuk bagi penderita insomnia, juga sebagai pengatur mood suasana hati. Dalam hal ini merangsang ketenangan, kedamaian atau kebahagiaan.

4. Pada saat rileks, istirahat setelah bermeditasi, saat inilah kemurnian jiwa akan mulai dapat dirasakan. Di sinilah gambaran si 'Aku' yang seharusnya. Aku yang memegang kendali atas semua kesadaran dalam mengontrol dan mengorganisir tubuh. Tentu proses latihan ini tidak hanya dilakukan dalam satu periode, tapi berlanjut di lain waktu, agar tujuan kemurnian jiwa tercapai secara maksimal. 

Tiap-tiap periode nantinya akan dapat dirasakan perkembangannya secara langsung bila dipraktikkan secara intensif. Hingga akan dijumpai momen-momen transendental, yaitu pengalaman spiritual yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Sesuai dengan apa yang sedang diniatkan.

Pada saat bermeditasi, saat itulah juga terjadi peluruhan segala mental block. Bersatu dengan residu metabolisme tubuh. Setiap hari di dalam tubuh manusia terjadi regenerasi sel. Sel-sel yang mati akan dibuang dan digantikan oleh yang baru.

Pada proses tersebut, dapat pula timbul reaksi-reaksi sedikit nyeri atau rasa lainnya di bagian-bagian tubuh tertentu. Tanda peluruhan tersebut sedang berlangsung. Setiap orang akan mengalami sensasi yang  berbeda.

Perlu kita ingat, bahwa mental block sejatinya adalah memori dalam sel neuron yang reaksi atau citra rasanya bisa menyebar di jaringan sel saraf tepi bagian tubuh mana pun dan mengendap di sana. Memori adalah software yang juga berarti bioelektromagnetik. Hal ini sangat mirip dengan proses pembentukan illness block (hal positif) yang sengaja diciptakan, yaitu dengan vaksinasi ke dalam tubuh untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit.

Semakin mental block sirna, semakin kemurnian jiwa dapat tercapai. Maka semakin pantas untuk memasuki zona fortuner, dimensi di mana keinginan seorang hamba dengan kehendakNya bertemu, tanpa sekat. 

Bagi seorang muslim, proses purifikasi ini dapat ditempuh mulai dari sholat taubatan nasuha, aktivitas riadloh dan dzikir yang intens, yang dapat dimodifikasi dengan metode meditasi sederhana tadi.

Pertolongan dan petunjukNya, nantinya akan selalu hadir menjadi keberuntungan secara terus menerus, mulai dari hal-hal yang kecil, sederhana dan terus membesar serta semakin sering, selalu menuntun hamba hingga semakin dekat denganNya.



Posting terkait : Hidup Selalu Beruntung dengan Keberuntungan dan Berkelimpahan, Mungkinkah? - Prolog





home    back

Komentar