Hubungan dan Kinerja Antara Otak Sadar, Bawah Sadar dan Hati

KategoriMekanisme | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog



Otak manusia
Ilustrasi otak manusia


Daftar isi


Tanpa adanya Central Processor Unit (CPU) pada sebuah komputer atau smart phone, meski komponen di dalamnya lengkap dan terdapat aliran arus listrik sekali pun, pasti perangkat tersebut tak akan bisa hidup. Demikian pula tubuh manusia tanpa otak yang dapat dianalogikan seperti kinerja CPU.

Peran otak sangat vital sebagai penyebab dan pengendali hidup dan kehidupan. Dilihat dari fungsinya, cara kerja otak terbagi menjadi dua, yaitu otak sadar dan bawah sadar.

A. Otak Sadar

Otak sadar adalah alam pikiran pada tingkat kesadaran utuh yang digunakan untuk beraktivitas. Otak sadar digunakan untuk menyadari dan memperhatikan segala sesuatu yang sedang terjadi. Baik di dalam diri maupun di luar.

Setelah itu, otak sadar akan menganalisa dan memproses informasi itu berdasarkan basis data memori yang dimiliki dalam sel-sel otak (neuron), kemudian membuat satu kesimpulan dan memberikan perintah kepada organ tertentu berdasarkan kehendak.

Kinerja otak sadar, selain untuk menganalisa, membuat keputusan dan memerintah organ tubuh, juga berfungsi sebagai perangkat penyimpan informasi. Misalnya, pada saat belajar.


B. Otak Bawah Sadar

Sesuai dengan sebutannya maka cara kerjanya pun di bawah kesadaran. Otak bawah sadar terhubung langsung dengan sistem saraf otonom yang berperan dan bertanggung jawab terhadap fungsi fisiologis tubuh, tanpa harus melakukan perintah secara sadar. Bekerja secara auto pilot.

Misalnya, berdenyutnya jantung, berlangsungnya proses pernapasan dan semua kinerja organ dalam tubuh lainnya.

Otak bawah sadar juga sangat berperan sebagai penentu karakter manusia. Seperti, cara berjalan, gaya bicara, gerakan-gerakan yang bersifat spontan atau refleks, semua sifat manusia, seperti pemaaf atau pendendam, penyabar atau pemarah dan seterusnya. Otak bawah sadar, mengambil peranan 90% atas semua keputusan dan tindakan di luar kontrol otak sadar.

Ketika otak sadar sedang memikirkan sesuatu maka hal itu akan segera direspon oleh otak bawah sadar, menggali file-file data memori, memberikan citra, menampilkan solusi kreatif dan melengkapinya dengan rasa dan emosi. Otak bawah sadar sangat berkaitan erat dengan energi dan penciptaan.

Otak bawah sadar dapat menyimpan memori melalui kejadian-kejadian yang mengisyaratkan luapan emosi hebat. 

Seperti, saat yang sangat membahagiakan (euforia) atau sebaliknya, sangat menyedihkan (traumatis) dan kegiatan atau kejadian repetitif, yaitu tindakan sadar atau tidak sadar yang selalu dilakukan berulang (kebiasaan).

File memori yang masuk dalam bentuk visual, dapat berupa gambar, lukisan, foto, bentuk, warna, film, peristiwa nyata dan bersifat global, yang ditangkap oleh indera mata akan memiliki ketahanan penyimpanan jangka panjang. 

Sedangkan file yang sifatnya auditori (suara) atau berupa bahasa verbal (lisan) akan lebih pendek daya simpannya.

Kedua hal tersebut dapat dibuktikan pada aktivitas kehidupan sehari-hari. Kilatan memori yang muncul silih berganti di dalam otak, bisa hingga lebih dari 6.000 kali selama 24 jam, dan didominasi oleh bentuk-bentuk visual. 

Dan juga di saat secara tak sengaja bertemu dengan teman bermain atau sekolah semasa kecil dulu. Setelah puluhan tahun tak berjumpa, raut wajahnya tetap teringat meski sudah menua tetapi namanya ternyata lupa.

Anak pada usia golden age, yaitu antara 0 - 5 tahun adalah masa keemasan untuk penanaman memori. Hal ini sangat berperan sebagai penentu karakter di masa dewasanya. Otaknya akan melahap apa pun yang diterima secara mentah melalui panca inderanya, entah itu perkara baik atau buruk. Dikarenakan otak sadarnya belum berperan untuk menganalisa sesuatu, memorinya masih kosong dan sel-sel otak sedang bertumbuh dan berkembang, hingga bisa sebanyak 100 miliar sel neuron dan 10 - 50 triliun neuroglia, dengan jumlah synapse (saraf penghubung antar neuron) melebihi jumlah bintang di alam semesta.


C. Gelombang Otak

Menurut intensitas kerjanya, aktivitas otak dapat digolongkan menjadi beberapa bagian frekuensi sesuai vibrasinya.

1. Gelombang Gamma

Berada pada rentang frekuensi 38 - 42 Hz. Gelombang ini muncul ketika seseorang dalam keadaan sadar namun sedang dalam aktivitas spiritual.

2. Gelombang Beta

Berkisar antara 12 - 38 Hz. Menandakan seseorang sedang dalam keadaan sadar dan menjalani aktivitas biasa. Menghadapi masalah, tugas, analisa, mencari solusi dan mengambil keputusan dibarengi dengan aksi.

3. Gelombang Alfa

Berkisar antara 8 - 12 Hz. Muncul ketika seseorang sedang rileks, termenung, istirahat, perpindahan dari sadar ke tidur, bermeditasi dan lainnya. Pada frekuensi ini merupakan situasi paling sempurna antara otak dengan tubuh bersinergi dan berintegrasi (berhubungan).

4. Gelombang Theta

Berkisar pada 3 - 8 Hz. Terjadi ketika seseorang dalam posisi tidur tapi masih mengalami mimpi. Otak masih bekerja mengolah hasil belajar, fungsi ingatan dan mengasah intuisi.

5. Gelombang Delta

Terjadi pada rentang 0,5 - 3 Hz. Menandakan seseorang sedang tidur pulas tanpa mimpi dan dapat juga dicapai saat meditasi. Kondisi ini bertanggung jawab atas pemulihan stamina, regenerasi sel dan perbaikan jaringan tubuh.

Tidur pulas dapat dicapai ketika ruangan gelap tanpa sinar. Meski sedang tidur tapi jika masih terdapat cahaya maka akan memengaruhi sistem saraf sensorik, terutama pada mata dan berakibat pada kurangnya kualitas tidur dan dapat menyebabkan efek negatif berikutnya.

6. Gelombang Infralow

Berkisar di bawah 0,5 Hz. Disebut juga dengan slow cortical potentials. Keberadaannya sulit dideteksi namun bertanggung jawab terhadap pengaturan jam biologis di otak.


D. Tingkat Kesadaran Otak

Sementara itu, tingkat kesadaran otak (otak sadar) yang kualitasnya saling memengaruhi dengan karakter dan perilaku (bawah sadar) manusia, telah berhasil dipetakan oleh David R. Hawkins, M.D., Ph.D, seorang dokter, psikolog dan spiritualis. Melalui risetnya selama 20 tahun, ia memformulasikan temuannya dalam bentuk skala Hawkins. Sebuah hirarki model pengembangan diri.

Ia menjelaskan bahwa, tingkat kesadaran dapat menentukan cara pandang seseorang dan dapat mengarahkan cara seseorang beraksi terhadap sesuatu, sesuai dengan memori dan pengalaman hidupnya. Memang, tingkat kesadaran manusia itu fluktuatif, naik turun. Namun, ia mencatat bahwa manusia sebenarnya memiliki keadaan normal yang dominan. Berasal dari pengalaman dan pemaknaan hidup atau bisa disebut sebagai tingkat kesadaran utama.

Tingkat kesadaran utama itulah yang menentukan perspektif dan reaksi manusia, terhadap sesuatu yang dihadapinya. Hawkins membagi skalanya dengan angka 0 untuk nilai terendah, hingga 1.000 untuk capaian tertinggi. Skala kurang dari 200, masuk ke dalam area force (tekanan-berenergi negatif), sedangkan di atas 200, masuk dalam kategori power (kekuatan-berenergi positif).



Skema Hawkins
Skema Hawkins



Sebagai simulasi ia mencontohkan, jika seseorang sedang mengalami ketakutan dan apabila tingkat kesadarannya berada di angka 100 maka orang itu akan melihat hidup hanya berdasarkan ketakutan, atau perasaan cemas, yang menyebabkan ia akan menarik diri. Ia masih terjebak dengan perlawanan terhadap diri sendiri.

Sementara, bila suasana menakutkan dialami oleh orang yang tingkat kesadarannya di atas 200 maka ia akan bisa menghadapi situasi tersebut dengan baik dan berkembang sesuai capaian kesadaran yang dimilkinya itu.

Hawkins menekankan bahwa ada dua titik balik yang penting bagi pengembangan diri seseorang. Yakni skala 200 dan di skala 500. 

Skala 200 merupakan level awal pemberdayaan diri, di mana seseorang berhenti menyalahkan hal lain dan mulai menerima tanggung jawab atas pikiran, perasaan, tindakan dan keyakinannya sendiri. 

Sedangkan titik balik yang kedua berada pada skala 500, capaian di mana seseorang dapat menerima cinta dan pengampunan tanpa menghakimi, sebagai gaya hidup, ikhlas menjalankan kebaikan tanpa syarat kepada semua orang, setiap hal dan peristiwa.

Untuk itu, penting sekali kiranya, hasil temuan Hawkins ini dijadikan bahan referensi utama dalam pembahasan tentang bagaimana salah satu mekanisme keberuntungan bekerja.

Berikut ini 17 tingkatan kesadaran utama sesuai rumusan Hawkins.

1. Shame - Rasa Malu (20)

Pada tingkat kesadaran ini, seseorang akan merasa dirinya tidak berharga, selalu mengarahkan dirinya untuk membenci diri sendiri, low self-esteem, merasa sengsara, sial dan merasa sangat jauh dari keberuntungan.

2. Guilt - Rasa Bersalah (30)

Sebuah capaian kecil di atas rasa malu, namun masih termasuk ke dalam getaran yang rendah (negatif). Masih mempunyai kecenderungan untuk memanipulasi cara berpikir sendiri, tidak bisa memaafkan diri sendiri atas kesalahan masa lalu. Punya tendensi destruktif, suka menyalahkan orang lain atau lingkungan sekitar (keadaan).

3. Apathy — Rasa Apatis (50)

Emosi yang muncul dari sikap apatis ini adalah perasaan putus asa, merasa tidak memiliki masa depan, needy  dan cenderung bergantung kepada orang lain. Sebuah bentuk dari pemikiran tidak berdaya.

4. Grief — Rasa Sedih (75)

Adanya perasaan sedih atau kehilangan. Melihat dari perspektif bahwa sesuatu itu adalah tragedi untuk dirinya. Cenderung hanya menyesali perbuatan yang telah terjadi tanpa mencari solusi keluar dari situasi itu.

5. Fear — Rasa Takut (100)

Selalu melihat dunia sebagai sesuatu yang membahayakan. Pada level ini, timbul perasaan dihantui banyak kecemasan dan rasa takut pada sesuatu yang akan atau bahkan belum tentu terjadi.

6. Desire — Keinginan (125)

Tingkatan ini dipenuhi dengan hawa nafsu yang kuat. Seseorang di tingkat ini mudah sekali kecanduan sesuatu sehingga dapat mengakibatkan terobsesi dan kompulsi. Keinginan seseorang dapat menjadi tindakan membabi buta, melakukan apa saja, demi mendapatkan yang diinginkannya. 

Misal, ingin menjadi sukses atau terkenal, memiliki banyak harta, menjadi selebriti atau mendapatkan apa pun yang menurut pandangan umum akan mendatangkan kebahagiaan. Namun, kegagalan dalam mencapai keinginan tersebut, sering mengarahkan seseorang pada keputusasaan dan kebencian.

7. Anger — Rasa Marah (150)

Level ini dapat membuat seseorang terjebak dalam rasa frustrasi, menjadi antagonis dan mencari cara balas dendam. Rasa marah dalam waktu lama dapat membuat seseorang terjebak dalam kebencian membabi buta pula. Bisa benci dengan orang, keadaan atau semua hal yang terkait.

8. Pride — Rasa Bangga (175)

Pada tingkatan ini seseorang dapat mulai merasa lebih baik. Hanya saja perasaan yang timbul adalah perasaan yang salah karena bergantung pada faktor eksternal, seperti uang, harta, kemewahan, jabatan, kehormatan dan gengsi terhubung gaya hidup.

Seseorang yang berada pada level ini dapat menjadi arogan (suka menghina, meremehkan sesuatu atau orang lain) dan defensif. Ia meyakini, bahwa apa pun yang datang dari orang lain bersifat pribadi dan menyerang.

9. Courage — Berani (200)

Masuk area power (energi positif). Level ini adalah tingkat kesadaran titik balik perubahan yang pertama. Pada tingkatan ini, seseorang dimungkinkan masih memilki rasa marah, merasa tidak punya harapan dan juga arogan. Namun, di titik ini ia telah mempunyai cukup modal kekuatan untuk mengatasi semua itu secara lebih baik.

Sebagai komparasi, skala di bawah 200 masih bersifat melihat diri sendiri sebagai korban. Sedangkan mulai pada tingkat ini adalah awal pemberdayaan diri dan pengembangan. Adanya masalah dipandang sebagai suatu tantangan yang menarik untuk diselesaikan.

10. Neutral — Rasa Netral (250)

Di level kesadaran ini, seseorang akan merasa lebih rileks dan fleksibel dalam menjalani hidup. Tidak memaksakan diri, merasa aman dan percaya diri.
Misal, jika saya dapat naik jabatan, itu berarti bagus tapi jika tidak pun, tidak masalah.

Seseorang pada tingkatan ini, lebih memilih untuk melepaskan emosi yang negatif dan mengisinya dengan hal positif.

11. Willingness — Kemauan (310)

Tingkatan ini jauh merasa lebih aman lagi dari sebelumnya. Orang yang berada di jenjang ini mulai memampukan dirinya untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih baik, lebih terorganisir, lebih komitmen dan berkembang dalam hal apa pun. Siap sedia untuk tinggal landas.

12. Acceptance — Penerimaan (350)

Tingkatan ini menjadi awal adanya tranformasi kesadaran. Mulai banyak mengungkapkan rasa syukur dan mampu memanifestasikan dalam aksi nyata dengan berbuat baik. Menyadari bahwa diri sendirilah yang menjadi sumber kebahagiaan dan yakin bahwa ada kekuatan Besar yang selalu bersama. Mulai proaktif untuk mengembangkan diri, mulai menata dan berupaya mencapai tujuan.

13. Reason — Akal Budi (400)

Pada level ini, hidup terasa lebih berarti. Merasa terdorong untuk membagikan apa yang ia punya dan mampu untuk sekitarnya dan dunia. Cara berpikir lebih jelas dan rasional. Mulai menemukan simpul-simpul dan makna sejati kehidupan.

14. Love — Rasa Cinta (500)

Jenjang ini adalah titik balik perubahan yang kedua. Pada jenjang ini seseorang bisa mencintai tanpa syarat dari hati tulus ikhlas. Memahami dan sadar bahwa manusia saling terhubung satu dengan lainnya sebagai ciptaanNya penghuni dunia. Di sini ia akan dipandu oleh kekuatan Besar, selain juga memiliki intuisi yang kuat. 

Hawkins menyatakan bahwa rata-rata hanya ada 1 dari 250 orang yang dapat mencapai keadaan ini dalam hidup mereka.

15. Joy — Rasa Suka Cita (540)

Hanya dengan berada di sekitar orang dengan tingkatan ini, dapat berakibat terpancarkan vibrasi kemurnian suka cita, mengangkat tingkat kesadaran dan merasa bahagia.

Banyak orang-orang suci, alim, pemuka agama dan guru spiritual berada pada level ini. Mengimbas pada perasaan yang utuh tanpa mempertanyakan dan bisa memperluas kesadaran.

16. Peace — Rasa Damai (600)

Di area ini, merupakan tingkat kesadaran transendental total. Mendeskripsikan cara berpikir mengenai hal-hal yang ditangkap oleh panca indera dan indera batin di alam semesta bahkan multiverse (maha kosmos).

Contohnya, pemikiran yang berdasarkan pengalaman empirik dalam mempelajari sifat Tuhan. Dianggap begitu jauh, berjarak dan mustahil dipahami oleh orang-orang pada level-level di bawahnya.

17. Enlightment — Pencerahan (700-1000)

Merupakan tingkat kesadaran manusia yang tertinggi, di mana umat manusia berpadu dengan keilahian. Capaian ini adalah tingkatannya para nabi, aulia atau orang yang diberkati Ilahi (taufiq). Hanya dengan memikirkan tentang mereka saja, seseorang dapat menaikkan tingkat kesadarannya sendiri. Begitu hebatnya energi dan vibrasi orang yang berada pada level ini.

Secara keseluruhan, manusia yang mencapai tingkat kesadaran tertinggi ini dapat menyesuaikan, mengimbangi dan membantu mereka yang berada di tingkat kesadaran lebih rendah, menuntun dan membimbing untuk meningkatkan level kesadarannya.

Skala tingkat kesadaran utama otak yang dirumuskan Hawkins ini, sangat membantu dan dapat dijadikan pedoman atau indikator seseorang dalam menapaki perjalanan hidupnya dan melakukan pengembangan diri sesuai kecenderungannya (tujuan hidup) dan perannya secara hakiki hidup di dunia.

Temuannya ini seolah membuat benang merah yang jelas, di antara orang-orang yang suka berebut kebenaran dan saling menyalahkan. Hal itu akan tampak sangat jelas, pada level berapakah tingkat kesadaran utama mereka. Hingga saat ini, rumusan ini masih dapat diterima dengan logis oleh semua kalangan di dunia.



E. Hati

Hati yang selama ini dikenal sebagai tempat bermukimnya suara hati, rasa hati, perasaan, emosi, tempat diskusi internal yang dikenal juga sebagai batin atau nama sebutan lainnya lagi yang dapat merasakan senang, bahagia, sedih, susah dan sebagainya, itu bukanlah organ hati yang sesungguhnya.

Banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli neuro science, menyebutkan bahwa amigdala (bagian sistem limbik) di dalam serebral korteks adalah bagian otak manusia yang dominan bertanggung jawab sebagai pusat data emosi.

Selain itu, terdapat ACC (Anterior Cingulate Cortex) sebagai pusat kontrol seluruh pemikiran manusia dan fungsi kognitif lainnya. Ia bekerja berdasarkan stimulus yang dikirimkan padanya.

Ketika stimulus datang, misalnya ada kejadian sedih maka ACC ini akan segera berhubungan dengan amigdala, sebagai bank data yang di dalamnya telah terinstal file-file kesedihan, yang terjadi pada pengalaman hidup sebelumnya, lalu kembali ACC menampilkan hasil pengolahan tersebut, sebagai citra kesedihan dalam bentuk emosi. 

Timbulnya emosi bagi orang yang tidak bisa mengontrol kesadarannya, mengakibatkan emosi kesedihan itu akan menguasai kesadaran orang tersebut.

Jaringan saraf ACC ini, menghubungkan sistem saraf otak dengan otot dada, jantung, leher dan perut. Penelitian terkini juga menunjukkan bahwa jantung setidaknya memiliki 50.000 sel neuron.

Maka dari itu, citra atau emosi kesedihan itu terasa di dada hingga dapat timbul secara fisik, berupa nyeri atau sesak di dada, perubahan detak jantung yang krusial, rasa dongkol dan gondok di leher atau mual di perut. Tidak heran jika orang yang jijik terhadap sesuatu bisa langsung muntah hanya dengan penglihatan sekilas. 

Jadi, ACC dapat memproses rasa yang berasal dari pikiran, baik susah maupun senang dan juga merespon rasa fisik yang sebenarnya, yaitu merasakan sakit pada bagian tubuh tertentu yang mengalami sakit atau gangguan.

Begitu juga halnya ketika seseorang sedang berpikir, kemudian bersuara dalam hati, seperti halnya ketika sedang membaca buku ini. Lalu seketika muncul suara lainnya, misalnya menyangkal suara yang sedang membaca, kemudian terjadilah dialog. Tiba-tiba ada yang berkomentar, dari suara lainnya lagi. Siapakah mereka?

Tidak lain, semuanya adalah suara yang berasal dari memori otak. Namun terasa asal suara semuanya dari jantung atau dada. Sesuai sistem kerja otak di atas, terjadi vibrasi sebagai citra emosi atau rasa pada otot jantung dan dada, ketika dialog dalam pemikiran sedang berlangsung.

Ada begitu banyak suara di dalam otak. Setiap memori pengalaman hidup tersimpan di sel-sel neuron yang berjumlah hingga 100 miliar. Setiap suara bisa saja merepresentasikan satu sel memori atau mewakili kelompok beberapa sel memori yang koheren dan konstruktif. Setiap rasa akan memiliki suara atau tiap suara dapat mewakili beberapa kumpulan rasa dan seterusnya. 

Lalu, mungkin kembali timbul pertanyaan, yang manakah Aku?
Ya, semuanya adalah Aku. Tapi ada Aku si dominan, yang sesuai rumusan Hawkins. Aku yang berperan sebagai kesadaran utama, si pengambil keputusan. Raja atau ratu dalam kerajaan ragaku, yang lainnya adalah dewan penasehat, tidak boleh menduduki singgasanaku dan mengambil alih kendaliku.



Posting terkait : Mekanisme Alam: 13 Hukum dan Tingkatan Alam yang Jarang Diketahui Orang





home    back

Komentar