Kaitan Erat Antara Energi, Vibrasi, Frekuensi dan Listrik Dalam Tubuh dengan Beruntung dan Keberuntungan, Benarkah?
Kategori: Mekanisme | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog
![]() |
| Ilustrasi atom |
Daftar isi
Definisi
Menindaklajuti uraian pada posting-posting sebelumnya, kali ini kita akan memperdalam bahasan tentang energi, vibrasi, frekuensi dan listrik yang terdapat khususnya di dalam tubuh manusia. Topik pembicaraan ini akan menjadi pedoman dasar pemahaman dalam pembangkitan dan pengoordinasian sistem daya atau energi dalam tubuh. Yang selanjutnya, digunakan sebagai landasan pengendalian kehendak, kekuatan pikiran dan kontrol emosi-rasa manusia, serta efeknya terhadap makro sistem alam semesta, sebelum pembahasan tentang fortuner nantinya.
Sebagaimana telah dipahami bahwa segala hal yang tercipta, terdeteksi panca indera maupun yang tidak, mulai dari wujud partikel hingga bentuk kesatuan yang utuh yang lebih besar, makhluk hidup atau benda atau zat mati adalah energi.
Energi bersifat kekal, tidak berkurang atau bertambah jumlahnya dan dapat bertransformasi ke dalam bentuk energi yang lain. Contoh sederhananya adalah air yang dipanaskan, akan berubah menjadi uap. Energi dapat dikategorikan menurut sifatnya, yaitu positif dan negatif.
Sedangkan vibrasi atau getaran adalah gerakan bolak-balik pada titik kesetimbangannya. Dalam hal ini, vibrasi merupakan gelombang elektromagnetik (getaran atau sinyal) yang dihasilkan oleh sebuah medan quantum atau kumpulan quantum (quanta), yang terjadi mulai dari level atom dan mulai menguat pada level molekul serta seterusnya pada tingkat di atasnya. Elektromagnetik pada makhluk hidup disebut dengan bioelektromagnetik.
Selanjutnya tentang frekuensi, yaitu merupakan jumlah dari banyaknya vibrasi dalam satu detik. Nama satuannya adalah Hertz (Hz).
Perhitungan frekuensi selalu berkaitan dengan periodik (periode), yaitu waktu yang diperlukan untuk melakukan satu getaran sempurna suatu gelombang listrik. Secara teoritis, korelasi antara frekuensi dan periodik adalah kontradiktif. Artinya, semakin besar frekuensi maka periodiknya semakin kecil.
Sampai di sini, sekiranya telah dapat tergambarkan dengan jelas, bagaimana hubungan antara energi, vibrasi dan frekuensi. Berikut ini sedikit paparan ilmiah, tentang bagaimana proses terciptanya energi dalam bentuk bioelektromagnetik dalam satu kesatuan tubuh manusia.
Listrik Dalam Tubuh
Tubuh manusia terdiri dari kumpulan atom di dalam molekul-molekul, berupa molekul protein (kimia) yang mengandung unsur-unsur, antara lain O (oksigen), H (hidrogen), C (karbon), Cl (chlor), I (yodium), P (Fosfor), N (Nitrogen) dan juga unsur logam, dalam hal ini Fe (besi).
Sifat magnet atom sebagai unsur dari suatu materi terletak pada searahnya rotasi (spin) elektron (muatan negatif) pada kulit atom atau proton (muatan positif) di inti atom.
Sedangkan sifat materi, magnet dasarnya terletak pada sifat magnetik inti dari unsur-unsur pembentuk tubuh manusia, yaitu molekul air (H2O), hidrogen dan besi.
Ion Fe memiliki sifat magnetik yang lebih statis, karena sifat rotasi elektron di kulit atomnya searah. Sifat magnetik ini akan membesar jika atomnya menyusun diri sehingga elemen magnetnya menjadi searah. Proses ini disebut dengan polarisasi.
Di dalam tubuh manusia, Fe terdapat pada butir hemoglobin (sel darah merah). Data empirik menunjukkan bahwa hemoglobin merupakan hasil dari rantai protein yang panjang, di mana dari beberapa pasangan, posisi pada kedua ujung rantai tersebut terdapat penyambung (jembatan) dalam struktur datar, di mana ion Fe terikat.
Melalui ion Fe ini, darah merah dapat mengikat oksigen setelah perjalanannya melewati paru-paru. Lalu, ion Fe ini juga menyerap sari-sari makanan di dalam muara alat-alat pencernaan makanan (hati) bersama dengan oksigen ini. Darah merah kemudian menjalankan salah satu fungsi pentingnya, yaitu mengganti sel-sel yang rusak di seluruh jaringan tubuh dengan mengoksidasinya, yaitu membakarnya dengan bantuan oksigen tadi dan membentuk sel baru.
Jika di dalam darah, molekul-molekul hemoglobin berposisi secara acak maka kekuatan magnetik tubuh menjadi kecil, karena sifat vektor (arah) medan magnet antar molekul yang dapat saling meniadakan, alias menjadikan nol.
Namun, manusia dapat mengarahkannya dengan sadar dan sengaja, yaitu dengan melakukan latihan psikis dan fisiologis sekaligus, yaitu dengan memfungsikan kekuatan pikiran untuk fokus pada sesuatu dan mengatur napas secara lambat atau tahan napas dalam beberapa saat.
Bisa juga ditambah dengan modifikasi gerakan tertentu. Dengan cara ini maka ion-ion dalam molekul akan terpolarisasi secara otomatis, dikarenakan oksigen yang dihirup dapat terserap dengan cepat dan menghasilkan energi yang positif, sesuai sifat kekuatan pikiran yang difokuskan.
Zat lain yang mempunyai sifat magnetik namun tidak sekuat Fe, di dalam hemoglobin adalah molekul air (H2O), yang berarti molekul air terdiri dari dua atom hidrogen yang terikat kovalen dengan satu atom oksigen. Posisi atom hidrogen dalam molekul air tidaklah simetris. Dalam posisi ini, dua elektron di kulit luar oksigen (oksigen memiliki 6 elektron) melakukan rotasi secara pararel. Hal ini juga menyebabkan air bersifat sedikit kemagnetikannya.
Tetapi molekul air termasuk benda cair yang mudah diarahkan untuk terpolarisasi kemagnetikannya, yaitu melalui pemusatan pikiran dan pernapasan tadi.
Gerhard Baule dan Richard McFee di tahun 1963, dari Departement of Electrical Engineering, Syracuse University New York, mendeteksi adanya medan biomagnetik pada jantung manusia dengan menggunakan dua kumparan yang mempunyai dua juta putaran lilitan yang dihubungkan dengan amplifier yang sangat sensitif.
Berlanjut pada tahun 1970, David Cohen dari MIT dengan menggunakan magnetometer SQUID, juga dapat mengukur medan biomagnetik dari jantung manusia. Kemudian berlanjut di tahun 1972, dengan menambah kepekaan magnetometer itu, ia berhasil mengukur medan magnetik di sekitar kepala yang dihasilkan oleh kegiatan otak.
Gelombang bioelektromagnetik otak, melalui sel saraf motorik, ternyata tidak hanya bekerja di otak saja tetapi memancar ke seluruh tubuh melalui axon (serabut saraf) ke sistem saraf tepi dan ke sistem jaringan sel di tubuh, serta mengubahnya menjadi gerakan kinetis.
Saraf tepi adalah bagian dari sistem saraf yang letaknya di luar otak dan sumsum tulang belakang (sistem saraf pusat) di seluruh tubuh, seperti pada organ-organ dalam dan permukaan kulit.
Sel saraf sensorik pada saraf tepi, yang umumnya terdapat pada panca indera mampu menerima rangsangan dan mengubahnya menjadi sinyal listrik lalu mengirimnya ke sistem saraf pusat untuk diterjemahkan dan sebagian menjadi file memori di neuron (sel otak).
Sel-sel saraf sensorik, selain dapat menerima sinyal bielektromagnetik dari rangsangan eksternal melalui panca indera juga menerima vibrasi dari organ dalam tentang keadaan organ dan yang paling utama adalah dari sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang).
Ketika seorang manusia sedang meraba sesuatu, kejadian yang sebenarnya adalah tangan orang tersebut tidak benar-benar menempel pada permukaan yang sedang diraba. Ada jarak yang memisahkan (tampak pada mikroskop) antara keduanya dan terjadilah proses tarik menarik dan tolak menolak (kemagnetan) yang menimbulkan vibrasi dengan frekuensi tertentu untuk dikirim ke sistem saraf pusat. Maka barulah dapat dirasakan, permukaan yang sedang diraba tersebut halus ataukah kasar.
Adanya kelistrikan yang menimbulkan sifat kemagnetan dalam tubuh manusia ini, dimanfaatkan dalam bidang kesehatan untuk mendapatkan gambar detail mengenai jaringan tubuh manusia dengan alat diagnostik yang dinamakan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Secara keseluruhan dalam sains fisika, kimia dan biologi, termasuk bekerjanya sistem hormon, bila potensi bioelektromagnetik di dalam tubuh dapat dikelola secara maksimal dan terintegrasi saling mendukung, baik kelistrikan yang berasal dari sistem saraf, lalu hasil polarisasi kandungan nutrisi dalam hemoglobin yang terus melakukan revolusi (peredaran) di dalam tubuh, serta komposisi raga manusia, di mana 70%nya adalah air maka akan berefek pada timbulnya kecepatan dan kecerdasan dalam proses berpikir, memunculkan kekuatan berkehendak, kemampuan mengolah rasa dan emosi serta vibrasi yang sangat kuat akan terpancarkan ke luar tubuh manusia.
Hal ini bila dikaitkan dengan topik bahasan berupa beruntung dan keberuntungan menjadi suatu hal yang tak terpisahkan. Bagaimanapun, beruntung dan keberuntungan juga merupakan energi. Di mana keberadaannya secara mikro kosmos perlu untuk dibangkitkan, dikelola, dikendalikan dan dimanfaatkan. Sebab, efek dari energi tersebut juga terkait langsung dengan multi sistem alam di atasnya, yaitu makro kosmos.
Efek Vibrasi
Perlu diketahui, vibrasi atau gelombang elektromagnetik, sejatinya adalah cahaya yang sangat lembut (tak kasat mata) dan memiliki dualitas bentuk, yaitu sebagai partikel (foton) dan gelombang itu sendiri. Bila kandungan foton dominan positif (negatif sedikit) maka vibrasinya positif dan bila kandungannya dominan sebaliknya maka vibrasinya negatif.
Efek dari pancaran vibrasi manusia, baik dalam kategori positif atau negatif, akan diterima oleh setiap entitas makhluk hidup dan materi lainnya di bumi dan alam semesta serta akan memengaruhi kondisinya, termasuk multiverse. Setelah itu, hasil vibrasi dari semesta seisinya akan kembali mengimbas kepada pemilik pancaran vibrasi semula.
Selain itu, pancaran vibrasi manusia juga akan berefek pada pembentukan alam-alam (selubung) yang tak kasat mata, di dalam sistem mikro kosmos seseorang itu sendiri. Bentuknya ada yang menyerupai wujud asli manusia (kembar) atau menyerupai telur yang melapisi bagian luar tubuh manusia.
Misalnya, alam eterik (selubung vibrasi dengan bentuk kembar manusia), aura, alam kesadaran, alam emosi, alam mental, alam astral, alam spiritual atau istilah-istilah lainnya.
Pendalaman tentang pengetahuan ini dapat melalui sumber lainnya. Dan akan dijumpai, dirasakan dan mulai dapat dipahami sendiri ketika sudah mulai melakukan praktik "Journey of The Fortuner" nantinya.


.png)



Komentar
Posting Komentar
Tanggapi artikel ini atau tanyakan hal yang kurang jelas