Perspektif Fortuner #3 - Berawal Dari Selalu Beruntung Mendapatkan Keberuntungan

KategoriDeskripsi | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog


Uang
Ilustrasi uang


Daftar isi

Fortuner Rezeki – Berkelimpahan Materi

Menurut pandangan agama, sebenarnya rezeki meliputi tidak hanya materi, tapi juga non materi. Namun, sering diasumsikan masyarakat hanya sebagai materi saja.

Begitu pun tentang karunia. Pengertiannya bukan hanya untuk pemberian non materi saja. Karunia lebih tinggi tatarannya daripada rezeki, karena hal ini merupakan anugerah. Kata karunia sering dipakai sebagai tafsir dalil pemberian Tuhan berupa petunjuk, pertolongan, taufiq, termasuk rezeki dan sebagainya.

Terkait masalah rezeki, dunia dan alam semesta sudah melimpah ruah. Semuanya ada. Alam semesta merupakan makro kosmos manusia, seperti halnya alam kandungan ibu sebagai makro kosmos bayinya, yang menyediakan kebutuhan hidupnya.

Harta benda apa pun sudah tercipta melalui manusia sesuai ilham dariNya. Termasuk uang, tentu saja ia tidak dicetak di langit. Ketika seorang manusia meminta uang kepada Tuhannya, tidak kemudian uang tersebut turun dari langit. Semuanya sudah ada di bumi. Hanya saja perlu ikhtiar, baik secara lahir maupun batin, selaras hukum alam untuk menjemput semua itu.

Bicara uang, hal ini menarik dan selalu menjadi topik abadi, karena jangan-jangan negara kita kekurangan uang. Sehingga masih banyak masyarakat yang kurang beruntung dan banyak yang terlilit hutang. Padahal, sudah berupaya mati-matian untuk mendapatkannya. Begitu pun dengan berdoa, juga sudah tidak kurang-kurang melakukannya.

Data BI pada bulan Juni tahun 2022 menunjukkan, uang beredar sebanyak 7.672,4 triliun. Seumpama semua itu dibagi rata kepada seluruh penduduk, laki-laki perempuan, tua muda, lansia dan balita, sebanyak 270 juta jiwa, maka masing-masing orang akan menerima 284,163 triliun rupiah. Angka yang sangat fantastis. 

Jika yang menerima uang hanya diperuntukkan kepada penduduk usia produktif saja maka semakin tambah banyaklah uang yang akan diterima. Lalu, di manakah uangnya? Mengapa kenyataannya sangat berbeda. Masyarakat menengah ke bawah seakan merasakan begitu sepinya keberadaan uang.

Tentu saja, sebagian besar uang tersebut dimiliki oleh para konglomerat dan dikendalikan perusahaan-perusahaan raksasa, bank-bank komersil, negara pun juga pasti di dalamnya. Tetapi masih sangat mungkin dan masuk akal, bila tiap penduduk produktif bisa mempunyai uang miliaran. Dan itu belum membahas potensi dollar dan mata uang lainnya di level dunia.

Jadi, bukankah melimpah ruah harta kekayaan di dunia? Bila usaha nyata sudah maksimal dan berdoa juga sudah tidak kurang maka jawabannya adalah keberuntungan dan keajaiban atau mukjizat. Sayangnya, mukjizat hanya berlaku untuk nabi dan umat lain selevel dengannya. Tinggal tersisa satu, yaitu keberuntungan.

Dan sayangnya juga, bila hanya menunggu datangnya keberuntungan, itu juga sama halnya dengan menanti bintang jatuh, tenggelamnya perahu gabus atau mengambangnya batu hitam.

Sebenarnya, negara juga sudah berupaya maksimal agar rakyatnya sejahtera.  Bagaimana caranya agar uang yang beredar dapat merata dimiliki seluruh warganya dengan beraneka ragam program nasional. Namun, negara juga memiliki keterbatasan anggaran, sebagian besar uang tersebut tidak berada di tangan negara. Di sisi lain negara juga tetap harus menjaga kestabilan dan ketahanan nasional dalam bidang ekonomi.

Hukum penawaran dan permintaan harus seimbang. Di samping juga ada keterkaitan dengan bank dunia dan perhitungan nilai mata uang terhadap negara-negara lain yang pengaruhnya sangat vital bagi tumbuh dan berkembangnya suatu negara. Hal ini merupakan efek hukum sebab akibat yang langsung dirasakan secara krusial bagi sebuah negara dan penduduknya.

Ekonomi seimbang adalah nilai penawaran yang disepadankan dengan akumulasi nilai barang dan jasa dalam sebuah negara, sama besar nilainya dengan jumlah uang yang beredar (nilai tukar permintaan).

Jika nilai akumulasi barang dan jasa 1.000 maka jumlah uang beredar juga harus 1.000. Jika nilai akumulasi barang dan jasa lebih besar dari jumlah uang beredar maka berarti negara mengalami deflasi. Namun jika sebaliknya, jumlah uang beredar lebih banyak maka akan menimbulkan inflasi.

Dampak deflasi dan inflasi sama-sama buruknya. Ketika terjadi deflasi, akhirnya barang-barang hasil produksi dan jasa mengalami over load, tidak akan terjual atau terjual dengan harga murah (obral). Akibatnya, perusahaan-perusahaan kecil, menengah dan besar pun (semua produsen) akan tutup karena merugi. Para pekerjanya di PHK.

Sedang bila terjadi inflasi maka dampak terbesar kembali akan dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah. Memang uang beredar lebih banyak, namun uang tersebut tidak di tangan mereka. Itu sebabnya mereka tetap disebut sebagai golongan menengah ke bawah. 

Akibat uang beredar lebih banyak maka hukum ekonomi mengatakan bahwa harga barang dan jasa (penawaran) akan naik. Dan yang mampu belanja hanya kalangan atas. Yaitu para pemilik usaha besar, investor besar dan orang-orang kaya lainnya. Yang berarti, bila inflasi terjadi dalam waktu yang lama maka mengakibatkan si miskin akan bertambah miskin dan si kaya akan terus dapat menggulung uangnya. Hal ini akan bertambah parah ketika sudah merambah pada kebutuhan pokok. Fenomena majikan dan budak akan terus berlangsung.

Bagaimana jika negara mencetak uang baru dan dibagikan kepada masyarakat menengah ke bawah tersebut? Itu berarti, inflasi akan semakin tinggi. Seberapa pun banyaknya uang yang dimiliki masyarakat, pada akhirnya tetap tidak akan mampu membeli barang dan jasa yang juga harganya semakin melambung tinggi. Baik secara internal maupun eksternal terhadap negara-negara lain, nilai mata uang akan anjlok dan berdampak pada kacaunya perdagangan di dalam negeri, eksport import dan stabilitas negara.

Oleh sebab itu, kita tidak bisa mengharapkan datangnya solusi agar sejahtera, hanya dari sesama manusia saja. Permasalahannya, bukan pada uangnya yang beredar tidak ada. Akan tetapi, letak peredarannya yang tidak merata itulah sebagai sebabnya. Apabila sistem yang dirancang dan dijalankan manusia tidak dapat memberikan solusi sejahtera yang merata maka sistem siapakah yang dapat mengatasi masalah tersebut?

Sebenarnya, dalam agama Islam, Tuhan sudah menghadirkan pencerahan, bahwa barang siapa pandai bersyukur, niscaya akan ditambah nikmatnya. Namun, barang siapa berperilaku sebaliknya, niscaya konsekuensinya amat pedih. Pun sejatinya, Dia akan selalu mengikuti prasangka baik hambaNya. Mendatanginya lebih cepat dari yang manusia lakukan menujuNya serta memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka, bagi orang yang selalu mengikuti petunjukNya. Sangat mudah bagiNya memindahkan dan meratakan rezeki kepada setiap umatNya, baik secara langsung (mukjizat) atau melalui perantara hukum alam.

RumusanNya ini, hakikatnya juga sudah menjadi hukum alam di bumi dan jagad raya, yang bekerja secara auto run. Materi apa pun yang dibutuhkan manusia, sudah diberikan olehNya di bumi dan jagad raya ini, sebagaimana alam kandungan ibu telah mencukupi semua kebutuhan hidup bayinya. Hanya diperlukan ijin atas ridlhoNya saja untuk mengelola apa pun yang dibutuhkan, tanpa harus meminta barangnya, kecuali untuk urusan non materi dan akhirat.

Hal ini seperti biasanya seseorang yang bekerja kemudian secara hukum alam akan mendapatkan hasilnya. Seperti mengambil sesuatu dari gudang penyimpanan dan bekerja secara lahir batin sebagai passwordnya semesta.

Seyogyanya ketika seseorang memohon kepadaNya, tidak meminta atas suatu benda yang sudah diberikan (berada) di bumi sehingga tidak mengindikasikan sebagai hamba yang serakah dan tidak tahu bersyukur. Sebuah kesalahan kecil yang bila sering dilakukan secara berulang-ulang ini, nantinya akan menumpuk dan dapat berimbas kembali dalam bentuk konsekuensi (hukuman) yang pedih, yang langsung diterima dan dirasakannya selama hidup.

Misal, jika berdoa tidak pernah terkabul dan permasalahan justru datang semakin banyak.

Sejatinya, Dia sudah mengetahui apa pun yang dibutuhkan hambaNya di dalam hatinya tanpa meminta pun. Hanya saja, manusianyalah yang salah dalam menempatkan diri kepadaNya ketika membutuhkan sesuatu dan salah dalam mengelola energi di dalam jiwa raganya. Sehingga terkesan meminta sama dengan menyuruhNya menyediakan kebutuhannya.

Oleh sebab itu, sebagai awal untuk mengurai permasalahan, yang perlu dikerjakan sekarang hanyalah dengan melakukan introspeksi diri dan sinkronisasi kembali kepadaNya. Memang rezeki berbeda-beda kadarnya bagi setiap orang, namun potensi maksimalnya sampai di mana, tidak diketahui oleh seorang pun dan tidak digali oleh sebagian besar umat manusia serta bisa jadi, semua itu hanya tinggal passwordnya, apakah sudah sesuai dengan yang dibutuhkan ataukah belum? 

Dan kebanyakan orang malah justru menciptakan limitasi potensi rezeki terhadap dirinya sendiri.

Misalnya, mana mungkin cuma seorang buruh rendahan penghasilannya puluhan juta sebulan, dan sebagainya.

Bicara tentang password semesta sebagai bentuk upaya, keberuntungan rezeki bukan hanya dapat diraih melalui ikhtiar secara lahiriah seperti pada umumnya orang bekerja namun juga usaha batiniah (spiritual), berupa doa yang benar dan pengelolaan energi serta vibrasi secara maksimal. Jika pandai bersyukur maka keberuntungan rezeki akan bertambah intensitas, kualitas dan kuantitasnya.

Maka, sangat penting kiranya kita melakukan pengembangan diri secara terus menerus untuk menjadi seorang fortuner, agar memperoleh keberuntungan yang hakiki, menciptakan kesejahteraan lahir batin dengan cara berspiritual yang semestinya.


Fortuner Karunia - Berkelimpahan Non Materi


Orang bahagia
Foto hanya ilustrasi


Tidak semua orang memilih untuk meningkatkan kualitas hidup, beramal dan menjadi lebih banyak bermanfaat terhadap sesama dengan cara berkelimpahan materi atau kaya raya. 

Sebagian orang merasa, masalah harta benda hanya sebatas cukup. Sebagaimana falsafah Jawa yang artinya, 'Banyak belum tentu cukup dan sedikit tidak mesti kurang' (Okeh durung mesti cukup, sethithik ora mesti kurang).

Masalah rezeki dan karunia, hanya tinggal pilihan. Semuanya baik dan diijinkanNya selama proses dan hasil akhirnya pun baik.

Karunia memiliki tataran yang lebih tinggi daripada rezeki karena karunia sama dengan anugerah. Sehingga pencari karunia akan berhubungan langsung denganNya, tanpa perantara. Berkaitan langsung dengan cahayaNya dan biasanya, kecukupan rezeki justru akan mengikuti. Pencari karunia biasanya berhubungan erat dengan seseorang yang berupaya menggapai pencerahan atau ilmu, pencarian solusi dari masalah-masalah psikis,, kesehatan fisik, percintaan, masalah rumah tangga, karir dan semua problematika kehidupan non materi lainnya.

Orang-orang tertentu yang telah berhasil mendapatkan solusi dan tersifati dengan fortuner karunia, saat ini sudah banyak yang mencapai level 15 dan 16 pada skala Hawkins, yaitu tatarannya orang-orang yang berkesadaran utama dilingkupi dengan suka cita dan damai, meski jika dibandingkan dengan umat manusia secara keseluruhan, masih terpaut sangat jauh jumlahnya. Pancaran energi orang-orang tersebut sudah terlihat di raut wajah mereka, badan eteriknya bercahaya dan auranya terlihat ungu keputihan.

Namun, tidak sedikit pula orang-orang yang dianugerahi keduanya, rezekinya berlimpah dan sekaligus karunia yang mencerahkan. Tentu pencapaiannya lebih berat atau memang sudah dikehendakiNya. Sehingga dengan menerapkan metode spiritual fortuner dan atas ijinNya, harapan dalam pencapaian hidup yang berkelimpahan dan sejahtera akan lebih mudah tercipta serta keberuntungan yang didapatkan akan semakin hakiki dan banyak.



Posting terkait : Pandangan Agama dan Budaya Tentang Beruntung dan Keberuntungan, Memberikan Sisi Terang





home    back

Komentar