Peran Fortuner: Terbukti Membawa Dampak Positif dan Pelestarian Bagi Semesta - #1
Kategori: Konklusi | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog
![]() |
| Gambar: Reimund Bertrams, Pixabay |
Rezeki dan karunia tidak begitu saja jatuh dari langit, bukan? Atau 'cling', tiba-tiba muncul. Lagi pula, jika itu masalah rezeki yang bersifat materi, bukankah semuanya sudah berada di dalam makro kosmos manusia? Hanya perlu keselarasan dengan semesta dan denganNya saja untuk mengorder serta memanfaatkannya.
Dan hal itu begitu ringannya, hanya berupa pengakuan tentang merasa beruntung atas banyaknya keberuntungan dan selalu mengungkapkan rasa syukur kepadaNya saja (purifikasi dan sinkronisasi).
Perlu sistem, sub sistem dan sub sub sistem jaringan yang rumit, di mana semua entitas hukum alam bekerja, jika memang harus dikupas, ingin mengetahui isi di dalamnya.
Namun, hal itu tak perlu dipusingkan. Ketika order diterima oleh server, baru kemudian diproses oleh bagian pengelolaan data dan administrasinya, lalu disiapkan barangnya, dipacking, diatur waktu dan sistem pengirimannya dan seterusnya, baru diterima oleh si pemesan orderannya.
Begitu mekanismenya jika pesanan berupa paket online. Lalu bagaimana dengan server semesta?
Sebetulnya hampir sama saja prosesnya jika itu berkaitan dengan materi. Hanya saja bukan alam yang menciptakan barangnya. Namun, sesama manusialah yang berperan sebagai kreatornya, pemilik barangnya dan pengantar paketnya.
Semesta kemudian hanya menggerakkan mereka, sebagai sarana dan prasarana memanifestasikan orderan sesuai vibrasi dan frekuensi yang diterima.
Sebagaimana telah dipahami, sistem alam semesta bekerja berdasarkan energi dan vibrasi yang belum sinkron dengan perwujudan materi di dalam medan quantumnya, melalui empat gaya fundamentalnya, bukan? Secara singkatnya, semesta hanya menggerakkan tiap energi dalam wujud materi untuk berpindah tempat, mengubah polaritasnya menuju pusat vibrasi yang sesuai frekuensinya, dengan perantara emotion.
Lalu apa dan bagaimana peran dan keterlibatan seorang fortuner di dalamnya?
Seorang fortuner, tentunya bukan saja menjadi orang yang beruntung yang selalu mengambil keberuntungan dari semesta. Apabila terjadi hal yang demikian, bisa dipastikan bahwa orang tersebut bukan orang yang beruntung dari zona fortuner. Ia hanya manusia biasa yang untung-untungan mendapatkan keberuntungan.
Setiap orang memang merupakan unsur dan bagian semesta. Namun setiap individu mempunyai frekuensi yang berbeda-beda, sesuai deskripsi pengelompokan tingkat kesadaran utama pada skala Hawkins. Sehingga orang-orang yang berada pada level di bawah 200 (berenergi negatif) hanya berfungsi dan saling berinteraksi di wilayah frekuensi yang dominan negatif.
Begitupun yang positif, terutama cenderung hanya sesuai pada levelnya.
Seseorang yang kurang beruntung (miskin), secara dominan hanya akan berkumpul dengan sesamanya, begitupun orang kaya. Bentuk riil frekuensi bisa tergambarkan namun tidak terbatas pada jenis pekerjaan, nasib, asal kelahiran, tempat domisili, agama dan kesamaan ciri khas lainnya.
Sehingga orang-orang yang kurang beruntung tersebut hanya melakukan sharing dan saling membantu di antara sesama orang yang kurang beruntung.
Misalnya, pinjam duit, minta garam dapur, pinjam alat rumah tangga, membagikan hasil masakan dan sebagainya. Sehingga meski tolong menolong, nasibnya tetap sama saja.
Begitupun gambaran yang sama terjadi pada kelompok sosial lainnya.
Namun bagi seorang fortuner, ia akan menjadi kontributor kebaikan dan keutamaan bagi semesta. Ia merupakan 'alat' semesta, ketika semesta merespon vibrasi apa pun yang berasal dari umat manusia lainnya, baik positif maupun negatif. Ia akan turut terimbas pula dan menjadi penangkal vibrasi negatif. Ia pun sekaligus akan menjadi keberuntungan (penolong) bagi orang-orang yang berenergi negatif tersebut. Yaitu tergerak dengan melakukan tindakan yang nyata, berdasarkan intuisi pribadinya yang sudah terbentuk sebagai fortuner.
Seorang fortuner adalah energi positif yang bergerak, yang memengaruhi perubahan positif dan pelestarian jagad raya. Setiap satu tindakan positif, akan menambah kolektifitas energi positif dalam medan quantum semesta dan memengaruhi energi seluruh umat manusia pula.
Bisa dibayangkan, bagaimana jika medan quantum alam semesta hanya dipenuhi atau didominasi oleh energi negatif? Mungkin alam ini sudah hancur dari dulu.
Sekilas mengutip sejarah temuan ilmuwan. Alam semesta ini sudah terbentuk pada miliaran tahun yang silam. Sebelum manusia ada, alam ini masih sangat tidak stabil. Baik di bumi, di tata surya maupun semesta. Hingga pada zaman dinosaurus (pra sejarah), dapat dicermati buktinya dengan musnahnya hewan-hewan purba tersebut dikarenakan adanya ketidakstabilan alam, salah satunya berupa hujan asteroid.
Betapa ritme alam berupa siklus, pergerakan planet-planet dan segala sesuatunya belum seperti sekarang, yakni era setelah kehadiran manusia di bumi ini. Tertata rapi dan berjalan disiplin sesuai porsinya.
Kitab-kitab suci pun banyak meriwayatkan, ketika kaum-kaum yang berbuat kerusakan, kedzoliman dan memusuhi utusan-utusanNya akan dihukum dan dibinasakan maka utusan-utusanNya tersebut, selalu diperintah untuk meninggalkan lokasi dimaksud.
Hal ini mengindikasikan, bukankah para utusan tersebut memiliki energi yang super positif dan berada di skala 1.000 pada level kesadaran utama Hawkins. Seandainya mereka tetap di tempat, niscaya akan terjadi benturan energi, alih-alih terjadi azab, polaritas energi akan saling meniadakan.
Sebuah penelitian valid pernah dilakukan oleh Maharisi Mahesh Yogi, seorang pakar meditasi dan spiritualis, yang melakukan uji coba dampak energi atau vibrasi positif di 24 kota di Amerika bagian Utara, melibatkan kurang lebih 10.000 orang pada tahun 1972.
Ia meminta kepada orang-orang tersebut melakukan sebuah meditasi khusus, yang disebut dengan meditasi transendental. Tujuan akhir kegiatan ini adalah untuk menghasilkan rasa damai dan tenteram dalam pikiran dan perasaan.
Setelah beberapa minggu aktivitas tersebut dilakukan, ternyata menunjukkan hasil di mana tingkat kejahatan, kecelakaan lalu lintas dan hal-hal negatif lainnya menurun secara drastis di 24 kota tersebut.
Oleh karenanya, kembali pada peran seorang fortuner, baik fortuner rezeki maupun karunia, dapat disimpulkan memiliki peran yang global dan holistik, yang dapat dirinci ke dalam empat pengertian.
Hal ini sangat identik dengan gagasan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram Islam ketiga pada tahun 1613 - 1645, di mana puncak peradaban tertinggi tercapai di tanah Jawa dari zaman sebelumnya. Berupa filosofi budaya ruang (space culture), yang juga disebut sebagai budaya spiritual, yaitu Hamemayu Hayuning Bhawana (mempercantik indahnya alam semesta).
Bersambung part #2

.png)



Komentar
Posting Komentar
Tanggapi artikel ini atau tanyakan hal yang kurang jelas