Space Culture Hamemayu Hayuning Bhawana Ternyata Telah Mengakomodir Peran Fortuner Di Tanah Jawa - #2

KategoriKonklusi | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog


Semesta
Gambar: Stefan Keller, Pixabay



Daftar isi


Budaya ruang dengan sebutan lainnya bernama Space Culture Hamemayu Hayuning Bhawana - Mempercantik Indahnya Alam, ternyata telah mengakomodir konsep perilaku utama umat manusia di tanah Jawa sebagaimana halnya peran Fortuner secara umum. 

Peran-peran tersebut adalah;

1. Melestarikan Diri Pribadi - Hamemayu Hayuning Pribadi

Umat manusia terlahir sudah sempurna. Derajatnya paling tinggi di antara semua makhluk ciptaanNya. Untuk itu, maka dijadikanNya manusia sebagai wakilNya di jagad raya.

Dengan sifat beruntung dan keberuntungan yang selalu hadir kepadanya, hal itu akan lebih menguatkan dan menginspirasi dirinya sendiri untuk selalu menjaga, memanfaatkan dan melestarikan apa pun pemberianNya menjadi semakin berpotensi.

Dirinya semakin berkembang, empat macam kecerdasannya pun semakin meningkat, ia semakin dapat menyempurnakan diri menjadi manusia insanul kamil, mewarisi sifat kasih sayangNya dan sifat-sifat kebesaran lainNya yang justru semakin menjadikannya rendah hati (tawadlu) dan semua wujud keberuntungan yang ia terima, dijadikannya sebagai sarana prasarana menuju lebih dekat kepadaNya.

2. Melestarikan Keluarga - Hamemayu Hayuning Kaluarga

Istri atau suami (bagi wanita) dan anak-anak adalah aset paling berharga di dunia. Dari merekalah, terutama anak-anak, tongkat estafet kehidupan akan diteruskan. Seorang fortuner akan menjadikan dirinya sebagai suri tauladan, pelindung, pengayom, pendidik, sumber penghidupan, pelita bagi keluarganya dan penanggungjawab di hadapanNya (Islam: bagi laki-laki).

Keberuntungannya dijadikan sarana prasarana, untuk melaksanakan semua tugas mulia tersebut. Agar keluarganya juga selalu beruntung, beroleh keberuntungan yang terus menerus seperti dirinya dan menjadi insan kamil kelak, di kemudian hari.

3. Melestarikan Sesama Manusia - Hamemayu Hayuning Sasama

Sebagaimana halnya telah ternukil pada bahasan di atas. Seorang fortuner adalah alatnya semesta. Ia tak ubahnya seperti seorang distributor keberuntungan bagi orang lain.

Semua orang hidup normal pasti mempunyai pengharapan dan cita-cita, tentang apa saja. Termasuk keberuntungan, kecuali mereka yang berputus asa. Namun sayangnya, sebagian besar orang tersebut tidak mengerti apalagi memahami pengetahuan tentang keberuntungan

Di situlah tugas seorang fortuner, bersiap siaga sesuai statusnya sebagai seorang fortuner berkelimpahan rezeki atau karunia (ilmu), mendistribusikan sebagian kecil keberuntungannya untuk orang-orang yang membutuhkan.

Mungkin, dulu pernah dialami suatu kejadian yang menimpa diri seseorang yang belum sadar ketika sempat kehilangan uang di jalan, kecopetan, kemalingan barang di rumah, ketipu bisnis uang raib, usaha bangkrut, sering disodori proposal bantuan, dimintai hutang tetangga, teman atau saudara yang ternyata uang tersebut tidak kembali dan sebagainya. Ternyata, sejatinya hal itu adalah peran yang menyifati orang yang berkelimpahan. 

Seandainya orang itu ditakdirkan berperan menjadi orang miskin di dunia ini, tentu peristiwa itu tidak mungkin terjadi.

Semesta sebetulnya sudah memberikan kodenya bahwa mungkin juga kita termasuk ke dalam gambaran di atas, yang merupakan orang yang berkelimpahan.

Tidak mungkin hal tersebut terjadi tanpa ada alasan, maksud dan tujuan. Di dunia ini, tidak ada yang kebetulan. Bukankah Tuhan tidak sedang bermain dadu (kata Einstein)? Nyatanya, orang-orang di sekitar kita tidak mengalami hal serupa.

Tetapi, mungkin dulu kita menanggapi peristiwa seperti itu dengan salah. Memposisikan diri pada kesadaran di bawah angka 200 (negatif). Menganggap semua itu adalah kesialan.  

Dan selanjutnya di kemudian hari, mungkin juga sampai hari ini, apa yang terjadi merupakan kebalikan dari semua yang diharapkan. Semesta merespon order perasaan negatif kita, sengaja atau tidak, disadari ataupun  tidak.

Semoga saja hal ini tidak terjadi berlarut-larut, segera kita sadar dan teringat, bangkit berbenah diri dan selanjutnya mulai berperan mendistribusikan keberuntungan kepada orang-orang yang memang membutuhkan.

Wawasan tentang beruntung dan keberuntungan, hendaknya juga tak henti-hentinya terus disampaikan kepada orang-orang yang memang membutuhkan pencerahan, atas segala permasalahan yang sedang dihadapi dan belum mendapati solusinya. 

Pendampingan pun juga seyogyanya dilakukan, sebab wawasan tentang beruntung dan keberuntungan bukan hanya sebuah pengertian tapi merupakan pemahaman yang membutuhkan pembelajaran berupa tindakan riil hingga seseorang tersebut mulai tersifati jiwa fortuner dan mulai turut menjadi distributor keberuntungan bagi yang lainnya lagi.

4. Melestarikan Alam Semesta - Hememayu Hayuning Bhawana

Global warming adalah salah satu bukti konkret bahwa manusia mengalami degradasi spiritual. Emisi karbon yang terperangkap di dalam lapisan atmosfer mengakibatkan pemanasan global dan berdampak langsung pada perubahan iklim.

Perubahan iklim ini ditandai dengan sering terjadinya cuaca yang ekstrim, bencana alam di mana-mana, menaiknya permukaan air laut hingga mencairnya es di kedua kutub bumi.

Meningkatnya emisi karbon di atmosfer tidak lepas dari aktivitas manusia sebagai kontributor utama penghasil jejak karbon. Hal ini sangat terkait dengan gaya hidup manusia di era modern ini, seperti penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil, produksi pangan yang menurut data Food Climate Research Network disebutkan, proses sedari sektor pertanian, perkebunan dan peternakan hingga sampai ke tangan konsumen setidaknya menyumbangkan emisi gas rumah kaca (karbon) sebesar 25% dari total emisi gas rumah kaca dunia.

Selain itu juga sektor penggunaan energi listrik dan sektor lainnya yang menggunakan sumber daya alam yang tak terbarukan, seperti proses produksi di pabrik-pabrik industri kecil maupun skala besar dan sebagainya.

Diketahui juga bahwa efek jejak karbon yang ditimbulkan manusia ini juga memicu berbagai masalah kesehatan, timbulnya penyakit-penyakit baru, meningkatkan resiko penularannya dan juga penyakit yang tidak menular, terutama gangguan pada pernapasan dan kardiovaskuler.

Dampak dari cuaca ekstrim tentu juga sangat memengaruhi sektor ekonomi, seperti kacaunya sistem pertanian, macetnya program-program wisata dan banyak kejadian alam yang menyebabkan kerusakan fatal yang menimpa infrastruktur-infrastruktur penopang kehidupan.

Contoh umumnya, seperti rusaknya jalan-jalan raya, banyak bermunculan lobang-lobang membahayakan, bahu jalan yang tergerus air yang disebabkan hujan yang berkepanjangan, sebagian lainnya menyebabkan air tergenang sementara kendaraan bermuatan berat terus melintas dan membuat cerukan-cerukan yang dalam serta tebing-tebing yang rawan longsor.

Teknologi di era modern ini tidak dipungkiri, memang sudah maju dengan sangat pesatnya namun belumlah cukup memadai untuk menjadi solusi mengatasi permasalahan hidup secara komprehensif, antara memudahkan kebutuhan hidup manusia dengan pelestarian alam dapat berjalan secara bersamaan berbanding lurus. 

Ditambah kesadaran berspiritual yang semakin berkurang, bahkan cenderung ditinggalkan. Sehingga energi negatif lebih banyak menggejala.

Pengamalan agama pun, sudah semestinya tidak berhenti pada ibadah lahiriah yang bersifat individualistik dalam menyembah dan mendekatkan diri kepadaNya. Pengamalan agama sangat memerlukan perjalanan spiritual agar memiliki implikasi eksternal. Agama bukan cuma tentang surga dan neraka, pahala dan dosa.

Tuhan menurunkan agama agar menjadi rahmat bagi alam semesta (dalam Islam). Tidak serta merta kehendakNya itu berlaku langsung kepada ciptaanNya. Namun membutuhkan perpaduan manifestasi, atas kehendakNya yang diinginkan dari makhlukNya juga.

Jagad raya sebagai makro kosmos manusia dewasa, dapat diilustrasikan sebagai ’alam kandunganNya’, tempat di mana kita tinggal saat sekarang ini. Ia tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena tidak memiliki perangkat selengkap ibu. Berakal, berperasaan, berkehendak, berinovasi yang seratus persen menjamin kehidupan kita saat masih menjadi bayi di dalam kandungannya.

Seorang fortuner, dapat mengambil keberuntungan dari makro kosmos tapi di sisi lain juga menanggung konsekuensi timbal balik, berupa aksi nyata yang harus dilakukannya untuk terus melestarikannya.

4.1. Antara Bekerja dan Berkarya

Seorang fortuner, dalam kaitannya dengan semesta mempunyai pengertian, sudah tidak ada lagi istilah ’bekerja’ untuk dirinya sendiri.

Namun melakukan pengabdian kepadaNya dengan cara berkarya sesuai dengan desainNya dalam dirinya (bakat dan keahlian), sebagai harmonisasi di alam semesta.

Setiap orang pasti memiliki panggilan jiwa yang berbeda. Hidupnya sudah ditanggung oleh semesta dengan keberuntungan yang terus menerus yang semakin meningkat nilainya. Semua masalah pribadi dan keluarganya sudah diangkat oleh semesta (Tuhan).

Secara lahiriah, antara bekerja dan berkarya tampak persis sama, tidak ada bedanya. Namun di dalam alam bawah sadar yang bervibrasi, hal ini sangatlah bertolak belakang dampaknya.

Bekerja memiliki pengertian, melakukan aktivitas yang berorientasi kepada diri sendiri (bukan untuk Tuhan), untuk sebatas mencari penghasilan, guna bertahan hidup dengan mencukupi segala kebutuhan hidup yang normal sesuai zamannya dan di wilayah mana ia tinggal bersama keluarganya.

Fokus pemikirannya hanya tertuju pada penghasilan. Hal ini akan menempatkan mentalnya pada zona force di dalam rumusan Hawkins, orientasi alam bawah sadarnya menciptakan suasana yang tertekan.

Di mana bila hasil kerja tidak sesuai dengan harapan dan hal tersebut tidak dapat menutupi kebutuhan hidupnya maka dengan terpaksa tanpa pilihan lain, ia harus berhutang jika tak ada lagi sesuatu miliknya yang bisa dijual.

Gali lobang tutup lobang terus dilakukan karena penghasilan tidak pernah cukup, hal tersebut bukannya membuat semakin dangkal, malah justru semakin dalam dan akhirnya berakibat fatal. Siang hari serasa terhina dan malam hari terasa sengsara. Hidupnya seakan tenggelam di tengah samudera. Dada serasa sesak, susah bernapas lega dan sangat sulit berjuang untuk menyembul kembali ke permukaan.

Mental yang terganggu, semakin lama akan semakin menggulung dan sangat rentan masuk ke dalam zona force pada level yang semakin dalam. Beribadah pun menjadi suatu hal yang sangat sulit untuk mencapai tataran khusuk (fokus), pikirannya selalu tertaut dengan masalah hutang dan kebutuhan lain untuk hari berikutnya yang harus ada.

Sejatinya, bukan Tuhan atau alam yang menginginkan hal seperti ini terjadi. Tapi sebuah jeratan energi negatif, bisa jadi berasal dari konspirasi ekonomi global yang tetap ingin melestarikan perbudakan terselubung di era modern, demi kepentingan mereka, yang kemungkinan besar disinyalir adanya Dajjal (penebar fitnah) di belakang semua itu.

Jika saja hal tersebut menimpa diri kita, lalu siapakah yang akan menolong dan mengatasi permasalahan ini. Apakah ada orang atau lembaga keuangan atau apa saja yang akan menanggungnya?

Kita bisa mempelajari secara khusus tentang sistem ekonomi global ini, tentang bagaimana uang kertas (FIAT Money) diciptakan, dengan pengelolaan di bank sentral yang memiliki hirarki dengan segala dampaknya di seluruh dunia. Bahkan negara pun tak kuasa melawan kekuatan sistem ini.

Sementara berkarya memiliki pengertian bahwa apa pun yang dilakukan seorang umat manusia adalah dalam rangka melaksanakan pelayanan kepada alam semesta seisinya. Bila disebut bekerja maka ia bekerja hanya kepadaNya. 

Seorang fortuner sudah tidak berorientasi kepada penghasilan. Orientasinya adalah apa pun yang menjadi sebab kelegaanNya (ridhloNya) dalam pelayanannya kepada semua makhlukNya.

Tuhan mendesain bakat dan keahlian seseorang dengan begitu rupa, satu dengan lainnya berbeda demi tercapainya harmonisasi alam semesta yang penuh rahmat.

Semakin bervariasinya bakat dan keahlian manusia yang dilakukan sebagai pengabdian maka akan semakin lengkap kemajuan peradabannya, hingga kasih sayangNya semakin bertambah pula.

Secara energi, berkarya dalam pengabdian berarti memancarkan power (kekuatan) berupa energi positif dalam medan quantum semesta.

Sedangkan bekerja, berarti menghasilkan force (tekanan) berupa energi negatif ke dalam medan quantum semesta.

Keduanya sama-sama berimbas kembali kepada seluruh umat manusia. Untuk itu, semestinya niatkan pekerjaan sehari-hari hanya sebagai aktivitas berkarya, agar tersetting sempurna di alam bawah sadar dan menghasilkan vibrasi positif. Adapun nanti pada saat gilirannya gajian, jangan menganggap hal tersebut adalah hasil jerih payah, namun sebuah keberuntungan yang didapat dengan campur tanganNya dan harus disyukuri berapa pun nilainya. Perlahan tapi pasti, keberuntungan berupa rezeki materi akan naik terus intensitas dan kuantitasnya, dari arah-arah lainnya tanpa disangka-sangka.

4.2. Peran Bersama

Selanjutnya, tentang peran bersama yang semestinya dilakukan oleh para fortuner, untuk menjaga energi dan vibrasi semesta adalah dengan saling berbagi dan tolong menolong, hingga masing-masing dapat mencapai kemerdekaan finansial dan waktu. Hidupnya sudah tidak diperbudak oleh pekerjaan yang berorientasi pada penghasilan. Ada kalanya hidup itu tersandung di jalan dan terbentur di langit-langit.

Sehingga kolektifitas medan quantum fortuner akan semakin membesar dan utuh serta akan semakin menciptakan perubahan positif dan berdampak terhadap pelestarian jagad raya.

Selain itu, kelaziman berupa aksi nyata untuk melestarikan alam dapat dimulai dari menjaga dan melestarikan ekosistem terkecil dan terdekat di lingkungan masing-masing. Perhatikan hewan-hewan dan tanaman kecil di sekitar rumah. Jika kemarin kita suka bertindak asal, melenyapkan sesuatu hanya karena alasan konyol atau sebatas ketidaksenangan. Cobalah sekarang, bertindak berdasarkan sifat fortuner yang tumbuh, segala perbuatan harus beralasan dan bertujuan secara tepat sesuai kehendakNya pula.

Langkah selanjutnya adalah menciptakan suasana rumah dan lingkungan sekitar menjadi aman, nyaman, tenteram dan damai. Keadaan di dalam dan luar rumah yang selalu bersih dan tertata rapi. Menempatkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya.

Visualisasikan bahwa rumah dan lingkungan adalah taman surga di dunia, secara lahir batin. Hal ini bisa dibayangkan seperti sedang membuat pilot project untuk kehidupan kita kelak setelah mati atau niatkan untuk memberi contoh kepada orang lain bahwa suasana surga seperti layaknya rumah dan lingkungan kita. Rumah yang indah, bukan berarti rumah yang mewah. Namun secara lahir batin terasa sejuk, nyaman dan damai. Membuat betah siapa pun yang menempatinya.

Di lingkungan yang lebih luas, misalkan di dalam kehidupan bermasyarakat, hindarkan atau setidaknya redam potensi munculnya energi negatif di sekitar kita, di lingkup tetangga atau di dalam perkampungan. Hindarkan pertikaian antar anggota masyarakat yang dapat berujung peperangan. Cegah eksploitasi sumber daya alam yang berpotensi merusak lingkungan. Melakukan rekondisi alam yang sudah rusak meski hanya sebuah aksi kecil, mulai dari level terendah dan sebagainya. Terus digali sesuai kekhususan potensi panggilan jiwa masing-masing.

Selebihnya daripada itu semua adalah tidak sekalipun meninggalkan peran-peran fortuner lainnya, yaitu tanggung jawab seorang fortuner sedari nomor satu, dua dan tiga. Semuanya mesti dilakukan sebagai satu kesatuan utuh yang terintegrasi dengan pelaksanaan tugas melestarikan alam semesta ini dengan sebaik-baiknya.



Posting terkait : Munculnya Tanda Manifestasi Pembentukan Fortuner Dibarengi dengan Meningkatnya Empat Kecerdasan Manusia





home    back

Komentar