Kesimpulan Yang Semestinya Dipraktikkan Dalam Buku Journey of The Fortuner - part #1
Kategori: Konklusi | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog
Berikut ini gambaran konklusi dari buku Journey of The Fortuner - part 1. Ulasan ini merupakan kesimpulan dari awal pengetahuan tentang salah satu cara berspiritual secara ilmiah yang mudah namun konstruktif untuk dipraktiklan oleh siapa pun. Agar menjadi seorang umat manusia yang beruntung, penuh keberuntungan dan berkelimpahan lahir batin. Bahkan bertransformasi menjadi seorang fortuner, sebagai bagian dari esensi hakiki, unsur positif alam semesta.
Jagad raya telah berumur miliaran tahun. Memang tidak dipungkiri, bila sudah tiba saatnya, alam ini akan mengalami kiamat atau menurut ilmu fisika, semesta akan terhisap lubang hitam dan kemungkinan akan muncul big bang yang baru, alam semesta yang baru.
Apa pun itu, artinya semua yang ada sekarang ini akan musnah. Namun, untuk hari ini dan setidaknya lusa, di masa anak cucu kita meneruskan kehidupan ini, perhatian ini merupakan tanggung jawab kita. Untuk menentukan alam ini, apakah masih akan berumur panjang ataukah tidak? Sesuai hukum alam dan tanpa mendahului kehendakNya. Karena vibrasi manusia merupakan sentral perubahan energi di alam semesta.
Manifestasi sebuah keinginan atau harapan agar terjadi, tidak hanya berdasarkan pada hukum tarik menarik atau tolak menolak saja, sebagaimana prinsip medan magnetik. Atau hanya berdasar hukum gravitasi saja atau energi yang memantul seperti halnya gema atau resonansi.
Namun, manifestasi dapat terjadi (bukan tercipta) dikarenakan adanya empat gaya fundamental yang terintegrasi di dalam medan quantum pada setiap levelnya. Dimulai pada tataran quarks, partikel inti atom, atom, molekul hingga medan quantum semesta yang merupakan kumpulan quanta level di bawahnya. Semuanya saling memengaruhi.
Perpaduan empat gaya fundamental berupa gaya elektromagnetik, gaya gravitasi, gaya inti (nuklir) kuat dan gaya inti (nuklir) lemah tersebut akhirnya menghasilkan vibrasi (getaran).
Bicara quantum berarti bicara keempat gaya fundamental ini, juga berarti bicara vibrasi itu sendiri dan juga berarti energi.
Ketika seseorang bervibrasi secara tidak sinkron dengan realitanya, spiritual mengatakan ada namun realita tidak ada, dalam medan quantum yang lebih besar, yaitu semesta maka itu berarti, makro kosmos menangkap dan mendeteksi ketiadaan vibrasi dari benda-benda atau materi yang divibrasikan orang tersebut.
Sehingga semesta dengan vibrasinya pula, kemudian menggerakkan materi-materi lain yang memiliki frekuensi yang sama dengan apa yang divibrasikan oleh orang tersebut, di dalam medan quantumnya untuk bergerak mendekat dengan perantara emotion (energi yang bergerak) kepada seseorang pemilik (sumber) vibrasi yang tidak sinkron tadi.
Sehingga alam semesta, sejatinya hanya bekerja menyinkronkan energi dan vibrasi pada level di bawahnya dalam medan quantumnya untuk terjadi, yang akhirnya disebut dengan realita.
Perlu dicatat, bahwa manifestasi terjadi bukan berdasarkan keinginan atau harapan yang mentah, namun berbasis pada rasa dan emosi di dalam jantung di dada, yang menjelma menjadi vibrasi serta aksi nyata dalam hidup keseharian, yang justru tidak mengindikasikan keinginan, karena keinginan menandakan ketidakpunyaan.
Namun, sebuah pernyataan kepemilikan yang sudah terjadi dan ekspresi rasa syukur atas hal tersebut.
Terkait dengan benda-benda yang berada di sekitar manusia (dimiliki manusia) yang seluruhnya tentu juga bervibrasi. Berarti benda-benda tersebut dapat dimaknai sedang be-revolusi (mengitari) sumber gravitasi, tertarik medan magnet, terpengaruh gaya inti kuat dan lemah, serta terjadi keterikatan vibrasi dengan manusia dalam medan quantumnya dengan kesamaan frekuensi.
Sangat dimungkinkan terdapat keberadaan quantum entanglement.
Sedang benda yang sudah tidak ada keterikatan vibrasi dengan pemiliknya, yaitu terjadinya pelepasan energi atau perubahan polaritas maka benda itu akan pergi menjauh, hilang atau musnah bertransformasi ke bentuk energi lainnya.
Adanya keterikatan disebabkan adanya vibrasi membutuhkan atau tidak membutuhkan dari manusia kepada vibrasi benda. Baik manusia yang berada di dekatnya (pemilik) atau orang lain.
Energi positif yang hadir dengan tanpa disadari, disangka, di luar kendali secara metafisik maupun yang diusahakan, disengaja dan disadari secara fisika materi disebut dengan keberuntungan.
Keberuntungan selalu hadir dalam wujud dan sifat positif serta dapat menjadi pemicu pikiran, perasaan, perkataan dan tindakan yang positif pula.
Keberuntungan yang hakiki selalu mendatangkan keberuntungan berikutnya. Tidak pernah salah.
Orang yang memperoleh keberuntungan adalah orang yang beruntung. Ucapan beruntung bagi diri sendiri adalah bentuk pengakuan atau pernyataan atau afirmasi terhadap dirinya dan manifestasi kesadaran atas rasa syukur kepada kekuatan superior.
Bahwa apa yang sedang didapatkan dan dirasakannya, bukan semata-mata hasil jerih payahnya sendiri. Ia menyadari sepenuhnya, apa pun yang ada padanya, yang ia gunakan untuk berupaya, seperti pikiran, tenaga, ilmu, sarana prasarana, perlindungan, keselamatan hingga jiwa raganya pun bukan miliknya, namun semua milik dan berasal dari Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
Seseorang yang dengan sadar dan sengaja, mendeklarasikan terhadap dirinya sendiri dan di hadapanNya bahwa dirinya adalah orang yang beruntung, lalu secara terus menerus memunculkan rasa beruntung, kemudian selalu menerima anugerah keberuntungan secara riil, hingga keberuntungan itu menyifatinya, hidupnya selaras dengan semesta dan sesuai dengan petunjuk serta bimbinganNya maka ia disebut dengan fortuner.
Hanya menjadi beruntung saja, belum berarti fortuner. Tetapi seorang fortuner, selalu berawal dari orang yang beruntung.
Beruntung dan keberuntungan selalu bersifat positif dan selalu menimbulkan keberuntungan selanjutnya. Tidak pernah salah.
Seorang fortuner yang menjalankan keempat perannya di dunia secara maksimal maka ia juga dapat disebut sebagai penyelamat semesta, termasuk di dalamnya pula turut menyukseskan program negara dan dunia, dalam hal pengentasan kemiskinan dan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, di mana pun tempatnya.
Sejatinya, tidak ada limitasi terhadap apa yang bisa dilakukan oleh manusia terhadap jagad raya, termasuk terhadap dirinya sendiri. Kecuali berubah menjadi Tuhan.
Semuanya serba mungkin, selama makhluk selaras dengan alam semesta dan Penciptanya, keinginan manusia sesuai kehendakNya, Tuhan Yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang.
Menjadi fortuner memang bukan satu-satunya jalan yang dapat ditempuh seorang manusia untuk meraih kesuksesan. Banyak hal yang dapat menghasilkan energi positif, selama orang tersebut selaras dengan hukum alam (makro kosmos).
Namun, sangat disayangkan juga, jika perjuangannya itu belum selaras dengan apa yang dikehendakiNya dari makhlukNya (maha kosmos).
Selaras dengan kehendakNya, berarti ada fase-fase bagi manusia menerima ujianNya untuk penilaian ketulusikhlasannya dan agar mendapatkan ridhloNya (pelaksanaan ajaran agama) sebagai hamba.
Tidak selaras, berarti apa pun yang diusahakan orang tersebut justru akan selalu diperturutkan hasilnya olehNya, entah itu perkara baik atau buruk (Jawa: uji dan ujo).
Jagad raya sekarang ini dalam masa ber-evolusi antara pengaturan – pelestarian, dikarenakan adanya eksistensi energi fortuner yang tersebar di seluruh permukaan bumi, baik itu fortuner berkelimpahan rezeki maupun karunia.
Energi fortuner anak yang masih murni juga memiliki andil di dalamnya. Hanya untuk sekedar gambaran komparasi. Satu energi fortuner pada level terendah (awal memasuki zona fortuner), yaitu level kemauan 310, setara dengan 90.000 orang berenergi negatif pada skala 200 dalam rumusan Hawkins.
Jika ada satu orang fortuner yang mencapai skala 700 maka ia sudah menjadi bagian dari pilar semesta, dengan menanggung 70 juta orang pengguna energi force. Alam semesta akan benar-benar lestari jika kualitas dan kolektifitas energi fortuner semakin membesar.
Tahapan praktik Mudah Menjadi Seorang Fortuner Dalam Perspektif Modern, secara Scientific Spirituality adalah,
- Memantaskan diri – purifikasi – menghilangkan mental block dan mencapai kesadaran utama berenergi positif (power) hingga pada hirarki tertinggi.
- Sinkronisasi antara mikro kosmos, makro kosmos dan maha kosmos, yaitu dengan menginstal pemahaman, mengendalikan emosi dan merepetisikan aksi fortuner melalui scripting, menentukan goal setting, visualizing, orbiting dan assuming.
- Melaksanakan keempat peran fortuner secara maksimal.
Kesimpulan lain yang dapat ditarik pada pembahasan dalam buku 'Journey of The Fortuner' part 1 ini, Hidup Selalu Beruntung Berkelimpahan adalah tidak ada yang tidak mungkin terjadi di alam semesta ini.
Usaha yang dilakukan umat manusia untuk mewujudkan sesuatu yang belum tercipta dan terjadi, dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu
1. Usaha secara lahiriah
Sebagaimana telah dilakukan umat manusia pada umumnya, di semua bidang produksi dan jasa, untuk menciptakan suatu materi atau layanan (mengubah bentuk energi). Berkarya untuk melayani umat manusia, bekerja hanya kepadaNya.
2. Usaha secara batiniah (spiritual)
Mengarahkan sesuatu agar terjadi (mengubah arah energi), yaitu selain berdoa kepadaNya, juga mengelola dan memberdayakan potensi energi di dalam mikro kosmosnya agar sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Kemudian menyelaraskannya dengan makro kosmos (alam semesta) dan maha kosmos (sifat dan pekerjaan Tuhan).
Inti semua kesimpulan di atas, jika dihubungkan dengan kesuksesan adalah,
“Kita hanya perlu mem-branding diri kita kepada server alam semesta.”

.png)



Komentar
Posting Komentar
Tanggapi artikel ini atau tanyakan hal yang kurang jelas