Servo Mechanism Dalam Otak, Penentu Nasib Manusia

KategoriWawasan | Tersemat: Perlu dibaca dari Prolog

Servo mechanism
Servo mechanism, foto Tep Ro, Pixabay


Pernahkah Anda mendengar istilah servo mechanism? Tentu jika Anda berkecimpung dalam bidang mekanik atau elektronika atau keduanya (mekatronika) maka kata ini tidak akan terdengar asing.

Secara mendasar, servo berarti kendali atau kontrol. Sedangkan mechanism adalah sistem, cara atau proses untuk menghasilkan suatu gerak tertentu (mekanis), sesuai pemrograman yang diterapkan.

Sebagai contoh, sebuah mainan mobil-mobilan atau robot yang dikendalikan dengan remote control. Seluruh gerakannya dapat dikendalikan melalui sebuah remote control tersebut. Bisa juga dicontohkan dengan sebuah misil di pesawat tempur, diprogram sedemikian rupa untuk dapat diluncurkan mengejar pesawat musuh. Meski pesawat musuh melakukan gerakan menghindar, keluar dari area bidikan, sebuah misil tetap saja akan mengejar ke mana pun pesawat musuh itu pergi.

Artinya, gerakan yang dihasilkan oleh sebuah sistem yang dikendalikan dapat berupa gerakan manual atau otomatis, sesuai tujuan sebuah servo mechanism tersebut dibuat.

Kinerja otak manusia, gabungan antara conscious (sadar) dengan subconscious mind (bawah sadar) merupakan sebuah bio servo mechanism yang multi task dan berjenjang. Servo mechanism pertama yang terbentuk akan menjadi dasar dari pembentukan servo mechanism di atasnya dan seterusnya.

Dengan kata lain, apapun tujuan atau hasil dari servo mechanism pertama, baik disadari atau tidak, disengaja atau tidak, akan secara otomatis membentuk sebuah sistem baru di atasnya, dengan kategori baik ataupun buruk.

Berikut ini adalah sebuah studi kasus dalam forum tanya jawab di situs tetangga yang membahas tentang adanya esensi dan eksistensi manusia, terkait dengan filosofi barat. Dalam hal ini, proses penciptaan manusia dikupas melalui pendekatan contoh kasus berupa proses penciptaan gunting.

Gambaran dari uraian ini nantinya akan dapat membantu pemahaman kita tentang keberadaan dan fungsi kerja bio servo mechanism dalam otak manusia.

Dalam situs tetangga tersebut, seorang pemilik akun bernama Ikra Amesta yang didukung naik oleh Lucky Hermansyah, seorang S2 filsafat dan fisika ITB 2018, menjawab sebuah wacana "Teori filsafat apa yang mengubah pemikiran kalian dalam kehidupan?"

Dalam uraiannya ia menerangkan, bahwa "Bagi saya pribadi, teori filsafat Eksistensialisme yang dikemukakan Jean-Paul Sartre telah mengubah banyak pandangan, iman, dan prinsip saya tentang kehidupan — utamanya tentang menjadi manusia yang menjalani hidup.


Sartre
Sartre, Quora

Apa yang menyentak pikiran saya sebenarnya adalah sebuah analogi sederhana tentang konsep Eksistensialisme, yang bisa dibilang juga sebagai pintu masuk bagi ajaran-ajaran Sartre yang lebih kompleks lagi. Dalam teorinya itu ia membandingkan sebuah gunting dengan seorang manusia, di mana perbedaan keduanya didasari pada 2 nilai, yaitu: Eksistensi dan Esensi.

Eksistensi mewakili bentuk, rupa, gagasan, spesifikasi, atau sifat-sifat alamiah yang menempel pada suatu objek. Sedangkan Esensi mewakili fungsi, manfaat, atau definisi yang menentukan identitas sebuah objek.

Gunting, dalam proses kelahirannya, diawali oleh sebuah gagasan di kepala manusia tentang alat yang dapat memotong kertas, atau tali, atau benda lain secara praktis.

Dalam gagasan itu juga terbit kebutuhan tentang bagaimana gunting ini bisa dikendalikan oleh tangan, bahkan hanya dengan 2 jari saja. Maka konsep tentang gunting sudah terdefinisikan, fungsinya sudah ditetapkan, dan wujudnya sudah digambarkan bahkan sebelum nama "gunting" muncul. Di sini berarti "esensi mendahului eksistensi", di mana fungsinya dulu ditentukan baru kemudian bentuknya muncul.

Sedangkan manusia punya proses yang berkebalikan. Manusia tidak bisa ditentukan fungsi dan nilainya ketika mereka dilahirkan. Tidak ada yang bisa menentukan bahwa seorang bayi kelak harus menjadi dokter, penyair, filsuf, atau apa pun selain dari bayi itu sendiri.

Di sini "eksistensi mendahului esensi" — artinya setiap manusia punya tanggung jawab penuh untuk menentukan nilai, manfaat, atau fungsi mereka dalam kehidupan.

Sehingga bagi saya, tugas setiap manusia adalah untuk terus mendefinisikan esensi mereka baik dalam perbuatan atau pemikiran di setiap hari yang dilewati.

Sekilas mungkin terdengar seperti kehendak bebas, tapi di balik itu ada keresahan dan kebutuhan manusia untuk mengaktualisasikan dirinya secara positif bagi kehidupan.

Teori Sartre ini memberi saya pencerahan bahwa pertama, filsafat itu penting, dan kedua, kehidupan ternyata jauh lebih penting. Ia membisiki saya bahwa dalam hidup ini manusia tidak cukup hanya sekadar "mengalami" tetapi juga harus bisa "menjadi"."

Dalam kolom tanggapannya itu, saya pun (penulis) menambahkan,

"Wah kalau diuraikan akan jadi panjang nih. Tapi ada hal mendasar yang semestinya bisa dipahami bahwa gunting dan manusia tidak sebanding atau bisa dianalogikan secara sederajat dalam hal proses penciptaan.

Pencipta gunting adalah manusia (kreator) dan gunting adalah benda mati. Sedangkan pencipta manusia adalah Sang Maha Kreator dan manusia adalah makhluk hidup yang tertinggi derajatnya di antara makhluk hidup lainnya.

Tentu memahami proses penciptaan gunting dapat dicapai, paling tidak nyerempet pemikiran kreatornya karena kita sama-sama statusnya sebagai manusia. Sehingga tersimpulkan esensi mendahului eksistensi.

Namun memahami proses penciptaan manusia, kita kemudian menemukan kompleksitas, ada sebagian pemikiran yang dapat mencapai konklusi berdasarkan filsafat hasil interpretasi manusia seperti proses penciptaan gunting tadi (filsafat barat), sementara sebagian lain membutuhkan penggambaran pemikiran dari sisi Sang Maha Kreator, berdasar filsafat agama, dikenal dengan asbabul nuzul. Di mana hal ini membutuhkan pengalaman hidup dan harus didukung dengan pemikiran transendental manusia yang tidak semua orang mampu memahaminya. Diperlukan perjalanan spiritualitas.

Intinya, filsafat agama menyimpulkan bahwa manusia memiliki dualitas fungsi.

1. Manusia sebagai abdi atau hamba

Memiliki pengertian yang hampir sama dengan proses penciptaan gunting, esensi mendahului eksistensi. Bentuk manusia secara fisiologis dan keadaan psikisnya ditentukan setelah terdefinisinya manusia sebagai abdi atau hamba. Yaitu melaksanakan penyembahan kepadaNya. Sifatnya umum, semua manusia sama.

2. Manusia sebagai utusanNya

Dalam semesta dengan berbagai jenjangnya, manusia memiliki pengertian eksistensi mendahului esensinya. Bersifat khusus, tidak setiap manusia mempunyai esensi atau fungsi yang sama. Di sinilah dalam banyak literatur dikemukakan pentingnya pencarian jati diri.

Di sini pulalah manusia memerlukan momen dan momentum yang disebut dengan taufiq. Yaitu berupa alam, zona atau wilayah di mana keinginan ciptaan yang berdasarkan bekal bawaan lahir berupa ilham atau kecenderungan kesadaran utama bertemu dengan kehendak Penciptanya.

Di situlah terjadi tarik ulur, manusia kadang memilih kadang dipilihkanNya, kadang menentukan kadang ditentukanNya dan seterusnya, selama dalam proses kehidupannya.

Sehingga dapat tergambarkan jenjang bertingkat dan berbeda pada tiap orang, yang terus naik bila manusia tersebut terus berupaya menyinkronkan dengan kehendakNya, berdasarkan pengertian eksistensinya, yang ia dapat dari pengalaman transendental sebelumnya hingga tercapai pemahaman esensi yang lebih tinggi.

Dari pemahaman tersebut kemudian diamalkan dan akhirnya bertransformasi menjadi eksistensi yang baru dan membentuk servo mechanism, yang terus menggulung, membentuk servo mechanism di atasnya hingga terbentuk hasil akhir berupa insan kamil atau manusia sempurna yang tataran tertingginya dicapai oleh para Nabi.

Jadi, antara gunting dan manusia bukan analogi yang sebanding dan tidak ada yang sebanding dengan esensi manusia meski dengan malaikat sekalipun."

-o0o-


Hasil dari proses penciptaan gunting memiliki esensi dan eksistensi yang final, sementara untuk manusia dalam sisi sebagai utusanNya tidak ada kata final, hanya waktu sajalah yang membatasi.

Eksistensinya terus berevolusi baik secara fisiologis maupun psikis, mengalami adaptasi dengan lingkungan hidupnya dan lingkup yang lebih besar berupa semesta, di mana semesta juga menjalani proses evolusinya. Begitu pun esensinya terus berkembang sesuai servo mechanism yang dimilikinya.

Hal ini bisa diperhatikan, baik menurut teori Darwin atau dogma agama untuk penggambaran eksistensi manusia.

Sejak manusia pertama hingga sekarang telah mengalami evolusi secara jasmani dan rohani. Menurut Darwin, manusia berasal dari kera, bentuk fisik dan pola pikir manusia sekarang jelas berbeda dengan kera.

Sedangkan menurut agama, wujud manusia pertama (Adam dan Hawa) memiliki tubuh yang lebih besar dan tinggi lebih dari sepuluh kalinya manusia sekarang, di mana kerasnya alam saat itu, mengharuskan bentuk fisik sedemikian rupa agar seseorang dapat bertahan hidup.

Perkembangan esensi manusia sebagai utusanNya juga tidak stagnasi, hasil perkembangan ini sifatnya menggulung berdasar proses kinerja servo mechanism membentuk eksistensi yang baru, menyempurnakan eksistensi yang lama.

Ilham bawaan lahir secara genetik atau kecenderungan kesadaran utama pengaruh cahaya pencerahanNya (transendental) yang keduanya disebut dengan "bakat" dan hasil evolusi, belajar atau adaptasi dengan lingkungan hidupnya beserta semesta yang disebut dengan "skil" atau keahlian, menjadikan eksistensinya pada step-step tertentu menjadi berbeda dari umat manusia lainnya.

Bila dicermati dengan seksama, secara umum tubuh seorang petani akan sangat berbeda dengan seorang pekerja kantoran. Jari-jari tangannya besar, keras dan kasar, tubuhnya berotot sedangkan pekerja kantoran berciri sebaliknya. Begitu pun gambaran seorang yang satu dengan seseorang lainnya akan selalu berbeda, di mana ciri eksistensinya akan menggambarkan esensinya.

Hasil dari proses di atas akan terus menggulung esensi manusia sebagai abdi atau hamba menjadi semakin tinggi derajatnya di hadapanNya dan martabatnya terhadap sesama makhluk. 

Atau dapat juga disimpulkan bahwa manusia sebagai hamba adalah penggambaran "eksistensi" manusia dan manusia sebagai utusanNya adalah penggambaran dari "esensi" manusia hidup di muka bumi.

Dalam contoh kasus ini, tidak hanya pengertian tentang servo mechanism menjadi lebih gamblang dan mudah untuk dipahami namun juga tentang masa depan, nasib seorang manusia akan dapat tergambarkan, secara lebih nyata dapat diprediksi, terlebih terkait dengan nasib beruntung yang penuh dengan keberuntungan dan berkelimpahan secara lahir batin.


Komentar